Kamis, 24 Feb 2022 13:43 WIB

Dosis Favipiravir untuk Omicron Berapa Sih? Ini Aturan Resminya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Pekerja menunjukkan paket obat COVID-19 di salah satu gerai ekspedisi SiCepat pengiriman barang gerai di Jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta, Sabtu (17/7/2021). Pemerintah pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO/ Reno Esnir/aww. *** Local Caption *** Dosis favipiravir untuk Omicron (Foto: ANTARA/RENO ESNIR)
Jakarta -

Pemerintah telah menyediakan layanan telemedicine dan paket obat untuk pasien yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Adapun paket obat yang diberikan di antaranya vitamin dan favipiravir. Lantas, berapa aturan dosis favipiravir untuk Omicron?

Pertama-tama pahami dulu kalau informasi ini dikhususkan untuk pasien bergejala ringan atau tanpa gejala yang diizinkan menjalani isoman di rumah. Sedangkan pasien yang bergejala sedang hingga berat wajib dirawat di rumah sakit dengan pemilihan obat sesuai aturan rumah sakit.

Selain itu, aturan dosis favipiravir untuk Omicron ini bisa dilihat dari paket obat yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) melalui telemedicine, berikut informasinya.

Dosis Favipiravir untuk Omicron dari Paket Obat Kemenkes

Dikutip dari laman Kemenkes, Kamis (24/2/2022), terdapat dua paket obat COVID-19 yang disediakan Kemenkes bagi pasien yang menjalani isoman di rumah, yaitu:

Paket A untuk Pasien Tanpa Gejala

Terdiri dari:

  • Multivitamin C, B, E, dan Zinc 10 tablet

Paket B untuk Pasien Bergejala Ringan

  • Multivitamin C, B, E, dan Zinc 10 tablet
  • Favipiravir 200mg 40 kapsul, atau Molnupiravir 200 mg - 40 tab
  • Paracetamol tablet 500mg (jika dibutuhkan)

Dosis Favipiravir untuk Omicron dari Tatalaksana COVID-19

Selain dari Kemenkes, dosis favipiravir juga bisa dilihat dari Pedoman tatalaksana COVID-19 edisi ke-4 yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Adapun informasinya sebagai berikut.

Obat COVID-19 untuk Pasien Tanpa Gejala:

Vitamin C dengan pilihan:

  • Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari)
  • Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari)
  • Multivitamin yang mengandung vitamin C 1-2 tablet /24 jam (selama 30 hari)

Vitamin D

  • Dosis 1.000-5.000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk, sirup) selama 14 hari

Obat Lain

  • Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan, namun dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien
  • Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan dapat diberikan

Obat COVID-19 untuk Pasien Bergejala:

Vitamin C dengan pilihan:

  • Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari)
  • Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari)
  • Multivitamin yang mengandung vitamin C 1-2 tablet /24 jam (selama 30 hari)

Vitamin D

  • Dosis 1.000-5.000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk, sirup) selama 14 hari

Obat Antivirus

  • Favipiravir (sediaan 200 mg) loading dose 1.600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 kali 600 mg (hari ke 2-5), ATAU
  • Molnupiravir (sediaan 200 mg, oral), 800 mg per 12 jam, selama 5 hari, ATAU
  • Nirmatrelvir/Ritonavir (sediaan 150 mg/100 mg dalam bentuk kombinasi), Nirmatrelvir 2 tablet per 12 jam, Ritonavir 1 tablet per 12 jam, diberikan selama 5 hari
  • Pengobatan simptomatis seperti parasetamol bila demam
  • Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan, namun dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien.

Jadi guys, dosis favipiravir untuk Omicron bisa dilihat dari panduan resmi yang telah diberikan oleh Kemenkes maupun Pedoman tatalaksana COVID-19 edisi ke-4. Namun perlu diingat, Fapiviravir merupakan obat keras. Penggunaannya tak boleh sembarangan dan harus berkonsultasi terlebih dahulu oleh dokter.



Simak Video "Kalau Kena COVID, Jangan Dirahasiakan"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)