Selasa, 05 Apr 2022 08:01 WIB

Varian XE Diduga Paling Menular di Dunia, Vaksin COVID-19 Masih Ampuh?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept Paparan ahli perihal potensi rekombinan Omicron BA.1 dan BA.2 'Varian XE' kabur dari efektivitas vaksin COVID-19. Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Para ahli meyakini varian Corona baru yakni varian 'XE' masih terlalu dini untuk dipastikan lebih menular dibanding varian Corona sebelumnya. Mengingat, varian baru ini merupakan hasil rekombinasi varian Omicron BA.1 dengan BA.2.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSCA) menyebut pihaknya tengah mempelajari lebih lanjut terkait varian XE. Per 22 Maret, sebanyak 637 kasus COVID-19 varian XE telah terdeteksi di Inggris. Namun, angka tersebut hanya sebagian kecil dari puluhan ribu kasus COVID-19 yang dilaporkan setiap hari sejak pembatasan dicabut.

Diketahui, tingkat pertumbuhan awal varian XE tidak berbeda signifikan dibandingkan subvarian Omicron BA.2 atau yang kerap disebut 'Omicron siluman' (Stealth Omicron).

Mengacu pada data terbaru UKHSCA terhitung hingga 16 Maret 2022, kini XE memiliki tingkat pertumbuhan 9,8 persen di atas subvarian Omicron BA.2. Namun begitu UKHSCA memperingatkan, perkiraan yang ada kini terkait tingkat penularan XE belum bisa dianggap konsisten lantaran data baru masih ditambahkan.

"Angka terlalu kecil untuk rekombinan XE untuk dianalisis berdasarkan wilayah," kata UKHSCA, dikutip dari Independent, Senin (4/4/2022).

Ada potensi lolos dari imunitas vaksin?

"Rekombinan khusus ini, XE, telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang bervariasi dan kami belum dapat memastikan apakah ia memiliki keunggulan pertumbuhan yang sebenarnya," terang Kepala transisi penasihat medis UKHSA, Profesor Susan Hopkins .

"Sejauh ini tidak ada cukup bukti untuk menarik kesimpulan tentang penularan, tingkat keparahan, atau efektivitas vaksin," sambungnya.

Lebih lanjut menurut laporan UKHSA, varian XE memang menunjukkan bukti penularan komunitas di Inggris. Akan tetapi, hingga kini angkanya masih kurang dari satu persen dari total kasus yang diurutkan.

Saksikan juga e-Life: Kok Baper, Sih? Kan Bercanda!

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)