Kamis, 21 Apr 2022 13:45 WIB

Waduh, Bayi Bisa Terpapar BPA Lewat ASI Ibu

Jihaan Khoirunnisaa - detikHealth
Ilustrasi kandungan BPA dalam botol minum plastik. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Cemaran senyawa Bisphenol A (BPA) tak hanya berbahaya bagi orang dewasa. BPA juga dapat menimbulkan risiko kesehatan pada bayi dan balita. BPA merupakan zat kimia yang umum terkandung dalam pembuatan botol kemasan plastik, termasuk galon isi ulang.

Menurut Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia, Hartati B. Bangsa mengatakan bayi menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap paparan BPA. Hal ini karena sistem saraf dan endokrin yang belum berkembang dengan sempurna.

"Jadi rentannya bayi kita karena mereka belum punya mekanisme pertahanan untuk mengawal. Karena sistem pertahanan kita dalam tubuh akan berkembang seiring siklus kehidupan berjalan," katanya dalam Diskusi Ilmiah Demi Anak-anak Indonesia Bebas dari Kemasan BPA di Jakarta Timur, Kamis (21/4/2022).

Karena itu, konsumsi BPA yang sering dan dalam jumlah besar bisa mengganggu tumbuh kembang bayi dan anak-anak. Di antaranya mempengaruhi senyawa yang diproduksi otak sehingga memicu kelainan, salah satunya autisme.

"Pada bayi, konsumsi BPA yang begitu besar, efeknya akan berdampak tidak secara langsung, tapi terakumulasi. Inilah yang bahaya," terangnya.

Lebih lanjut dia menyebut bayi bisa terkena paparan BPA lewat ASI yang diberikan sang ibu. Hal ini mengingat sifat senyawa kimia tersebut mudah larut dan terikat dalam air. Selain ASI, BPA dalam tubuh juga dapat ditemukan pada darah serta urine.

"Pada ibu dengan kondisi menyusui, maka air susunya juga bisa menjadi media pengantar. (BPA) itu akan larut, akan ikut terbawa (ke dalam ASI)," ujarnya.

"Jadi konsumsi ASI kepada anak, maka nanti akan ter-deliver juga ke anak. Dalam kurun waktu 2 tahun misalnya, akan memberikan dampak terhadap perkembangan anak," imbuhnya.

Senada, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menilai dampak senyawa BPA dapat berpotensi merusak generasi bangsa di masa depan. Karena itu, pihaknya mengadakan diskusi ilmiah bertepatan dengan momen perayaan Hari Kartini. Adapun tujuannya untuk meningkatkan awareness para ibu muda agar anak-anak terbebas dari paparan BPA.

"Dalam rangka hari Kartini, kita mau mengampanyekan agar ibu-ibu punya pengetahuan itu (bahaya BPA). Karena cukup berbahaya kalau tidak (bahaya), kita lebih ke bagaimana menyelamatkan anak," jelasnya.

Selain itu, dia juga mendorong pemerintah untuk segera mengesahkan perubahan peraturan BPOM No 31 Tahun 2018 tentang label pangan olahan. Hal itu demi menjaga kesehatan dan keselamatan janin, bayi, dan anak-anak. Diketahui, revisi beleid tersebut nantinya bakal mewajibkan produsen untuk mencantumkan label BPA free.

"2 Minggu lalu saya sudah bertemu dengan pihak BPOM, kita mendesak sesegera mungkin (merevisi) Perka No 31 Tahun 2018 tentang label pangan olahan, itu sangat penting dan direspons dengan baik. Karena BPOM pemegang regulator yang bisa memberikan warning agar industri memberikan label (BPA free)," terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar mengungkapkan dukungannya ke pemerintah agar segera mengubah Perka BPOM No 31 Tahun 2018. Menurutnya, senyawa BPA memiliki sifat tidak terlihat karena tidak bisa dicium maupun dirasakan.

"Jadi warning label (itu penting), bagaimana aturannya, meng-update dengan situasi global saya rasa itu perlu," katanya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Arzeti Bilbina yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI Komisi IX. Arzeti mengajak masyarakat mengawal aturan pelabelan BPA tersebut.

"Karena kita tidak bisa sendiri, kita harus bersama, bergandengan tangan untuk mengawal untuk pemerintah segera melabeli Bisphenol A. Di sini kita berbicara bagaimana menghadirkan atau memfasilitasi generasi emas dengan dimulai dari tumbuh kembang yang baik," tandasnya.



Simak Video "Bahas Tuntas Risiko Pelabelan yang Mengandung BPA di Kemasan Plastik"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)