Sabtu, 23 Apr 2022 12:05 WIB

Soal Label BPA, Pakar Ekonomi UI Sebut Justru Bikin Usaha Lebih Sehat

Inkana Izatifiqa R Putri - detikHealth
Ilustrasi Galon Air Mineral Foto: Shutterstock
Jakarta -

Pelabelan BPA pada AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) galon guna ulang polikarbonat (plastik keras) oleh BPOM diendus oleh Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) dapat memicu persaingan tidak sehat di pasar. Namun, menurut pakar ekonomi dan bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Tjahjanto Budisatrio hal itu justru akan membuat pasar AMDK galon menjadi lebih sehat. Kok bisa?

"Persaingan yang sehat akan terjadi jika konsumen makin sadar akan kesehatannya," kata Tjahjanto dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/4/2022).

Hal ini ia sampaikan dalam webinar yang diselenggarakan oleh FMCG Insights bertema 'Pelabelan BPA: Menuju Masyarakat Sehat dengan Pasar Sehat', Kamis (21/4).

Lebih lanjut, Tjahjanto menjelaskan pelabelan BPA akan membuat orang sadar untuk memilih antara produk yang telah memiliki label atau produk yang tidak mengandung BPA. Selain itu, hal ini juga akan memicu produsen produk yang mengandung BPA untuk memperbaiki produknya dan berinovasi agar tetap dapat bersaing.

"Inilah kondisi yang disebut dalam dunia ekonomi sebagai contestable market. Inilah kondisi yang kita harapkan, bahwa pasar mengarah kepada kondisi yang benar-benar bersaing secara sehat," imbuh dia.

Menurut Tjahjanto, pengusaha memang harus kreatif dan berinovasi dalam memenuhi tuntutan masyarakat, terutama dalam kaitan dengan masalah kesehatan. "Jika tidak mau berubah, siap-siaplah hilang dari pasar karena masyarakat saat ini sangat menuntut masalah kesehatan," katanya.

Ia menjelaskan BPA merupakan bahan kimia yang menjadi bahan baku dalam proses produksi kemasan plastik keras atau polikarbonat. Dalam ratusan publikasi ilmiah, BPA disebut dapat menyebabkan beberapa penyakit, antara lain kanker dan gangguan hormonal terkait kesuburan.

Menurutnya, fakta ilmiah tersebut menimbulkan negative externality atau dampak negatif dalam aktivitas bisnis. Ketika kondisi ini terjadi, kata Tjahjanto, pemerintah harus ikut masuk untuk memperbaikinya.

Ia mencontohkan kebijakan pemerintah yang mewajibkan pelabelan bahaya merokok pada kemasan rokok dan pelarangan merokok di ruang publik agar masyarakat sadar akan potensi bahaya tersebut. Kebijakan ini juga untuk menghindari pemerintah serta industri dari potensi gugatan di masa depan.

"Ini karena kondisi tersebut bisa menimbulkan kegagalan pasar atau market failure di masa depan," katanya.

Tjahjanto menilai pasar AMDK galon di Indonesia pun relatif kurang sehat. Hal ini karena adanya lock-in (penguncian pelanggan) pada produk tertentu. Dalam hal ini, ia menjelaskan konsumen harus mendeposit sejumlah uang untuk mendapatkan galon A, namun tidak bisa menukarnya dengan galon B jika galon A tidak ada di toko.

"Adanya lock-in dan kemudian biaya penggantian (switching cost) menciptakan rintangan untuk masuk pasar (barrier to entry), dan produsen yang melakukan lock-in secara kuantitas akan menjadi sangat dominan di dalam pasar ini," katanya.

"Dalam teori, kondisi ini disebut oligopoli model Stackelberg," imbuhnya.

Baca selengkapnya

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Bahas Tuntas Risiko Pelabelan yang Mengandung BPA di Kemasan Plastik"
[Gambas:Video 20detik]