Senin, 25 Apr 2022 20:31 WIB

Fakta-fakta Platform IHS Kemenkes, Bisa Cek Riwayat Berobat dan Kesehatan

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Cara membuat QR code PeduliLindungi penting diketahui bagi pemilik restoran, perkantoran, mal dan tempat umum lainnya. Pedulilindungi nantinya akan terintegrasi dalam IHS. (Foto: Hilda Meilisa Rinanda/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan saat ini ada sekitar 50 hingga 70 aplikasi penginputan data layanan kesehatan baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, membuat data pasien kerap berbeda-beda. Maka dari itu, pihaknya merilis platform baru yakni Indonesia Health Service (IHS).

Platform IHS tersebut bertujuan mengintegrasi seluruh aplikasi layanan kesehatan dalam satu platform. Pasien nantinya tidak perlu lagi mengisi formulir saat mengakses layanan kesehatan di RS atau laboratorium karena data sudah tersedia dalam IHS.

Kemudahan Akses Riwayat Pengobatan dan Kesehatan

Chief of Digital Transformation Office (DTO) Kementerian Kesehatan RI, Setiaji mengatakan platform IHS nantinya bisa memberikan data riwayat pengobatan secara detail bagi pasien yang melakukan pengobatan di rumah sakit.

Selain riwayat pengobatan, IHS juga memberikan data riwayat rekam medis pribadi maupun anggota keluarga yang terdaftar.

"Ini juga mengurangi beban khususnya pada tenaga kesehatan. Tidak perlu menginput data berulang pada aplikasi yang berbeda," jelas Setiaji dalam konferensi pers Senin (25/4/2022).

Informasi Klinis yang Bakal Terintegrasi

Lebih lanjut, Setiaji menerangkan dalam tahap uji coba hanya ada tiga informasi klinis yang terintegrasi dalam IHS. Ketiganya yakni:

  • Layanan COVID-19 yang terintegrasi
  • Layanan laboratorium bukan hanya berkaitan dengan COVID-19
  • Layanan rekam medis yang nantinya akan terhubung ke PeduliLindungi

"Sehingga PeduliLindungi bukan hanya untuk COVID-19, tetapi untuk yang lainnya," lanjut Setiaji.

Data Pribadi Dijamin Aman

Setiaji menjelaskan sistem pengamanan data pasien yang ada dalam IHS.

Data yang ada dalam platform IHS terbagi menjadi dua macam, yakni bersifat tertutup dan terbuka. Data yang sifatnya terbuka untuk publik hanya menampilkan jumlah atau agregat, seperti data kasus COVID-19 sekarang ini.

Kemudian pada data yang tertutup, hanya bisa diakses oleh individu dan tersimpan di rumah sakit tempat pasien melakukan layanan medis.

"Data itu tetap ada di masing-masing rumah sakit, paling yang kita ambil hanya resume medis untuk peningkatan layanan kesehatan, nah selain ada pada aplikasi yang dipegang masing-masing individu tadi," imbuh Setiaji.

"Kalo secara publik bukan data pribadi yang kita share tetapi yang sifatnya agregat," lanjutnya.



Simak Video "Data Imuniasasi Anak Akan Terekam di PeduliLindungi"
[Gambas:Video 20detik]
(any/fds)