Senin, 16 Mei 2022 12:43 WIB

Singapura Laporkan 3 Kasus Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Perlu Waswas?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus harian COVID-19 di Singapura terus cetak rekor baru. Pada Rabu (29/9) kemarin kasus harian COVID-19 Singapura bahkan melampaui kasus harian di Indonesia. Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan tiga kasus COVID-19 pertama dengan infeksi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Foto: Getty Images
Jakarta -

Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan tiga kasus COVID-19 pertama dengan dua infeksi subvarian Omicron BA.4 dan satu infeksi subvarian Omicron BA.5 pada Minggu (15/5/2022). Mengingat, kedua subvarian Omicron tersebut baru-baru mulai masuk dalam pantauan.

"Ini adalah kasus komunitas pertama yang dikonfirmasi terinfeksi varian BA.4 dan BA.5," kata Kementerian Kesehatan Singapura, dikutip dari Channel News Asia, Senin (16/5).

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa baru-baru ini mengklasifikasikan kedua subvarian Omicron tersebut sebagian Variant of Concern (Voc) atau varian yang menjadi perhatian. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan BA.4 dan BA.5 ke dalam daftar pemantauannya sejak awal April 2022.

Diketahui, kedua turunan Omicron tersebut pertama kali dilaporkan oleh Afrika Selatan pada awal 2022. Sejak itu, kedua subvarian ini menjadi varian dominan di Afrika Selatan.

Ketiga kasus infeksi BA.4 dan BA.5 di Singapura hanya menunjukkan gejala ringan berupa demam, batuk, pilek dan sakit tenggorokan, tanpa memerlukan rawat inap. Ketiga pasien telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap serta suntikan dosis lanjutan (booster).

Kementerian Kesehatan melaporkan, ketiganya telah menjalani isolasi mandiri setelah beroleh hasil positif tes COVID-19 .

"Kami akan meningkatkan upaya pengawasan lokal dan terus memantau penyebaran BA.4 dan BA.5 di Singapura. Sementara masyarakat kita sekarang lebih tahan terhadap virus, semua orang harus terus memainkan peran mereka dan tetap waspada untuk mengurangi penyebaran virus. COVID-19," beber Depkes.

"Khususnya, orang yang rentan terhadap komplikasi COVID-19, seperti orang yang tidak divaksinasi, orang di atas usia 60 tahun, dan orang dengan penyakit kronis, harus memastikan mereka mendapatkan booster sebagaimana yang direkomendasikan dan berhati-hati dalam melakukan potensi kontak," lanjutnya.

Berbahayakah BA.4 dan BA.5?

Subvarian BA.4 dan BA.5 diketahui mengandung mutasi pada protein lonjakan, dikhawatirkan memiliki kemampuan lolos dari kekebalan lebih besar, serta transimibilitas lebih tinggi dibandingkan subvarian Omicron BA.1 dan BA.2. Mengingat, subvarian BA.1 dan BA.2 diyakini sebagai biang kerok gelombang Omicron pada awal tahun ini.

WHO melaporkan, setidaknya sebanyak 1.000 kasus BA.4 dan BA.5 telah dilaporkan di 16 negara hingga 11 Mei 2022.

Afrika Selatan mengalami lonjakan kasus COVID-19 diduga akibat kedua subvarian Omicron baru ini. Meski jumlah kasus baru dan rawat inap meningkat, tidak ditemukan peningkatan kasus gejala berat dan kematian pasien COVID-19.



Simak Video "4 Kasus Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Ditemukan di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)