ADVERTISEMENT

Sabtu, 04 Jun 2022 14:30 WIB

WHO Sorot Wabah COVID-19 di Korea Utara Makin Parah, Begini Situasinya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Army medics involved medicine supply distribution work amid the COVID-19 pandemic in Pyongyang, North Korea May 22, 2022 in this photo released May 23, 2022 by the countrys Korean Central News Agency.  KCNA via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THIS IMAGE. NO THIRD PARTY SALES. SOUTH KOREA OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN SOUTH KOREA. Foto: KCNA via Reuters
Jakarta -

Bak mengibarkan bendera merah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan situasi pandemi COVID-19 di Korea Utara kian memburuk meski negara tersebut mengklaim situasinya membaik.

"Kami memiliki masalah nyata dalam mendapatkan akses data mentah dan situasi aktual di lapangan," beber kepala kedaruratan WHO Mike Ryan, dikutip dari The Independent, Sabtu (4/6/2022).

"Kami berasumsi situasinya semakin buruk, bukan lebih baik," sambungnya.

Hampir tiga minggu setelah laporan kasus COVID-19 pertama di Korea Utara, pemerintah negara tersebut menyebut wabah virus Corona terkendali. Bahkan, ketika data terkait pandemi COVID-19 di Korea Utara masih diyakini sebagai misteri.

Hingga kini, Pyongyang tidak secara langsung mengkonfirmasi jumlah orang yang dinyatakan positif COVID-19 berdasarkan hasil tes. Namun, dinyatakan terdapat 3,8 juta orang mengalami demam dan hanya 70 kasus kematian. Angka kematian tersebut menempatkan kasus kematian akibat COVID-19 di Korea Utara terendah di dunia.

Menurut Dr Ryan, WHO telah mengimbau Korea Utara untuk beroleh informasi lebih lanjut terkait wabah COVID-19 yang umumnya dibagikan oleh negara-negara. Tak lain, agar setiap negara bisa saling mengevaluasi risiko wabah terhadap kesehatan masyarakat. Namun, hingga kini WHO belum menerima informasi apa pun terkait situasi COVID-19 Korea Utara.

"Sangat, sangat sulit untuk memberikan analisis yang tepat kepada dunia ketika kita tidak memiliki akses ke data yang diperlukan," ujarnya.

Sebelumnya, WHO telah menyorot potensi efek COVID-19 terhadap populasi Korea Selatan lantaran sebagian besar masyarakatnya tidak divaksin COVID-19. Ditambah, negara tersebut memiliki sistem kesehatan yang rapuh dan hanya melakukan 64 ribu tes sejak awal pandemi merebak.

Dr Ryan menyebut, WHO telah beberapa kali menawarkan bantuan teknis dan pasokan kepada pemerintah Korea Utara. Di antaranya, tawaran vaksin COVID-19 .

"Kami benar-benar akan meminta pendekatan yang lebih terbuka sehingga kami dapat membantu rakyat (Korea Utara). Saat ini kami tidak dalam posisi yang bisa membuat penilaian risiko memadai dari situasi di lapangan," ujar Dr Ryan.

"Kami tidak ingin melihat penularan intens penyakit ini pada populasi yang rentan, dalam sistem kesehatan yang lemah. Ini tidak baik untuk orang-orang (Korea Utara). Ini tidak baik untuk daerah. Ini tidak baik untuk dunia," pungkasnya.



Simak Video "Covid-19 Belum Selesai, Korea Utara Laporkan Wabah Penyakit Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT