ADVERTISEMENT

Sabtu, 25 Jun 2022 14:33 WIB

Widi Vierra Alami Kekerasan Seksual, Psikolog Sorot Risiko Efek Depresi Akut

Vidya Pinandhita - detikHealth
Widi Vierratale Widi vokalis band Vierratale. Foto: Gus Mun/detikHOT
Jakarta -

Vokalis band Vierratale, Widi, mengungkapkan dirinya pernah menjadi korban pelecehan seksual. Sambil menangis, ia menjelaskan pada beberapa tahun lalu ia pernah diculik dan dilecehkan oleh sejumlah pria. Hingga kini Widi tak kunjung luput dari trauma imbas kejadian tersebut.

"Ini nggak mudah, kadang kita juga takut buat bicara karena nggak semua bisa memilih kata-kata dan penyampaian yang tepat," ungkap Widi saat berbincang di podcast Deddy Corbuzier.

Hal ini bukan kali pertama kasus pelecehan seksual terkuak di dunia maya. Mengingat, kasus pelecehan berisiko besar menimbulkan efek berkepanjangan baik secara psikis maupun fisik pada korban.

Colleen Cullen, psikolog klinis berlisensi, melaporkan diagnosis paling banyak dialami korban pelecehan seksual adalah depresi, kecemasan, dan bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

"Pengalaman (menjadi korban pelecehan seksual) dapat memicu gejala depresi dan kecemasan yang baru bagi orang tersebut. Juga dapat memperburuk kondisi sebelumnya yang mungkin telah dikendalikan atau diselesaikan. Pasien juga dapat melihat gejala yang memburuk," kata Cullen, dikutip dari NBC News, Sabtu (25/6/2022).

Bisakah Dipulihkan?

Psikolog klinis yang berlisensi dengan keahilan stres dan trauma, Dr Helen Wilson, menambahkan, orang yang mengalami pelecehan seksual berisiko menunjukkan gejala PTSD. Terutama, jika kasus pelecehan tersebut mengarah kepada aksi kekerasan atau penyerangan.

"90 persen wanita yang mengalami kekerasan seksual segera setelahnya menunjukkan gejala stres akut," ujar Wilson.

Lebih lanjut menurut Wilson, gejala tersebut bisa hilang seiring waktu, terlebih dibantu dukungan sosial dan upaya pemulihan. Namun pada banyak kasus lainnya, gejala tersebut tak bisa sepenuhnya teratasi sehingga mengganggu kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

"Bagi banyak orang, gejala ini menghilang dari waktu ke waktu melalui dukungan sosial dan strategi mengatasi, dan banyak orang benar-benar pulih dan melanjutkan hidup," terang Wilson.

"Orang lain akan sangat tertekan sehingga benar-benar mengganggu pekerjaan dan kehidupan mereka. Dibutuhkan sejumlah gejala untuk didiagnosis, tetapi saat itulah ia bisa menjadi PTSD," pungkasnya.



Simak Video "Ini Kata Psikolog Forensik Soal Dugaan Kasus 'Colak-colek' Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif
×
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela Selengkapnya