ADVERTISEMENT

Sabtu, 30 Jul 2022 07:45 WIB

Booster Kedua Vaksin COVID-19 Mulai Diberikan, Seberapa Manjur Sih?

Indi Mutiara Saniyah - detikHealth
Kasus aktif Corona DKI Jakarta tembus 86 ribu kasus. Meningkatnya kasus COVID-19 imbas varian Omicron membuat warga di Jakarta ramai-ramai divaksin booster. Vaksin COVID-19 (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI mulai memberikan vaksin COVID-19 dosis keempat atau booster kedua, Jumat (29/07/22). Pemberian booster kedua baru untuk tenaga kesehatan sebagai prioritas utama.

Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Kemenkes RI tentang Vaksinasi COVID-19 Dosis Booster Kedua Bagi Sumber Daya Manusia Kesehatan.

"Vaksin yang dapat digunakan untuk dosis booster kedua ini adalah vaksin COVID-19 yang telah mendapatkan Persetujuan Penggunaan Dalam Kondisi Darurat Atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan memperhatikan ketersediaan vaksin yang ada," keterangan dalam Surat Edaran tersebut.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, mengungkapkan program vaksinasi dosis keempat atau booster kedua bertujuan untuk memberikan imunitas tambahan bagi kelompok berisiko. Hal ini dilakukan karena mengingat perlindungan dari vaksinasi Corona yang sebelumnya menurun dalam 4 hingga 6 bulan.

"Studi dari COV-Boost mengungkapkan penyuntikan dosis keempat vaksin mRNA mampu tingkatkan level antibodi dan imunitas seluler tanpa menimbulkan KIPI yang berat," jelas Prof Wiku dalam konferensi pers, Kamis (28/7/2022).

Menurut Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), perlindungan signifikan pada usia dewasa ditawarkan oleh vaksin COVID-19 dosis ketiga dan keempat. Termasuk di antara individu yang pernah mengidap varian Omicron di awal 2022. Studi CDC memaparkan hubungan antibodi setelah vaksinasi dosis keempat melawan varian Omicron terbaru yang kini jadi mayoritas yaitu BA.5.

"Vaksin yang ada pada saat ini dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit serius yang dipicu oleh BA.5 yang beredar saat ini," ungkap CDC.

Teknologi mRNA digunakan oleh CDC secara spesifik untuk menganalisis efektivitas vaksin COVID-19, seperti Pfizer hingga Moderna. Data VISION Network di lebih dari 214.000 kunjungan gawat darurat atau perawatan darurat dan lebih dari 58.000 rawat inap dengan diagnosis penyakit mirip COVID-19 di 10 negara bagian AS dari pertengahan Desember 2021 hingga pertengahan Juni 2022 diperiksa oleh para ahli.

NEXT: Efektivitas vaksin booster

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT