ADVERTISEMENT

Minggu, 14 Agu 2022 14:32 WIB

Latah Ikut Tren TikTok Takuti Bocah Pakai 'Cekikikan' Hantu? Awas, Bisa Trauma

Vidya Pinandhita - detikHealth
little child girl crying and sad about an empty brick wall Ilustrasi anak mengalami trauma imbas ditakut-takuti. Foto: iStock
Jakarta -

Belakangan, muncul tren di Tiktok anak-anak ditakut-takuti dengan suara tertawa 'cekikikan' ala hantu. Dalam tren tersebut, anak diajak berpose di depan kamera merekam. Setelah muncul suara 'cekikikan' dari handphone, anak-anak ditinggalkan sendirian di hadapan kamera. Sejumlah anak menjerit ketakutan, sembari dikuncikan oleh orang dewasa dalam video tersebut.

Video serupa banyak beredar di laman For You Page (FYP), marak menuai respons tawa netizen. Namun psikolog memberi catatan, guyonan menakut-nakuti anak kecil tersebut bisa memicu trauma berkepanjangan. Seperti apa risikonya?

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi, atau yang akrab disapa 'Nina' menjelaskan, setiap anak dengan usia berbeda memiliki tahap perkembangan kognitif berbeda. Rasa takut akan beberapa hal tertentu pada anak-anak berusia di bawah tujuh tahun sebenarnya normal. Namun lantaran anak-anak tersebut belum bisa betul-betul membedakan realita dan fantasi, kondisi ditakut-takuti terasa lebih menakutkan sehingga berisiko terjadi trauma.

"Trauma di sini ini bukan sesuatu yang sangat mengerikan. Tapi dalam hal karena ini memang hal seperti sendirian, tidak ada orang yang dia percaya yang bisa menemani atau menjaga dalam kondisi tersebut, jadi ini memang bisa saja memunculkan trauma," terang Nina pada detikcom, Rabu (10/8/2022).

"Trauma ini kalau tidak ditangani dengan tepat memang bisa kemudian melebar efeknya ke hal-hal lainnya," sambungnya.

Selain kejadian ditakut-takuti, respons cepat setelah anak ditakut-takuti juga menentukan keparahan dan lama trauma pada anak. Pada kasus tren tersebut, jika anak tidak diberi perasaan aman setelah ditakut-takuti, besar risiko trauma pada anak berkepanjangan.

"(Misalnya) orangtua memperlihatkan bahwa ada tindakan tegas terhadap orang-orang yang memperlakukan itu terhadap anaknya. Katakanlah orangtuanya memarahi si kakak atau pemuda-pemuda yang melakukan hal itu. Anak itu kan betul-betul lebih merasa dia ditemani sehingga kejadian itu walaupun menakutkan tidak menjadikan traumanya berkelanjutan atau lebar-lebar efeknya," tegas Nina.

"Kalau orang di sekitarnya hanya bilang 'itu kan lucu, bohongan lagi' kan bingung. (Anak) belum memahami kondisi tersebut, dia merasa takut, kemudian orang lain bilang itu biasa saja. Itu kan disonansi kognitif, sesuatu yang membingungkan buat si anak. Jadi justru itu yang memunculkan trauma itu tidak terproses dan jadinya bisa melebar ke kondisi-kondisi lain," pungkasnya.



Simak Video "Menakuti Bocah Pakai Suara 'Cekikikan' Hantu Bisa Timbulkan Trauma"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT