ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Agu 2022 08:32 WIB

Menyoal Biang Kerok 'Resesi Seks' China, Ternyata Ini Sebabnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Ilustrasi populasi di China. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Populasi China diprediksi bakal menyusut di 2025 seiring dengan laporan rekor kelahiran terendah. Negara itu tengah bergulat dengan ancaman krisis demografi di tengah pertumbuhan populasi kian melemah.

Otoritas setempat kini mengizinkan setidaknya ibu melahirkan tiga anak, usai sebelumnya sempat dibatasi satu anak berdasarkan kebijakan yang berlaku hingga 2016. Namun, tampaknya langkah tersebut belum efektif meningkatkan angka kelahiran.

Dikutip dari NDTV, kelahiran China merosot menjadi 7,52 per 1.000 orang tahun lalu. "Terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949," demikian data Biro Statistik Nasional.

Apa Sebabnya?

Banyak pasangan disebut 'ogah' memiliki anak lantaran berkaitan dengan biaya hidup yang lebih tinggi. Adapula spekulasi 'resesi seks' terjadi lantaran muncul pergeseran budaya mengenai orang yang terbiasa hidup dengan jumlah anggota keluarga lebih kecil. Istilah 'resesi seks' ini merujuk pada turunnya gairah pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah, atau memiliki anak.

Komisi Kesehatan Nasional China per Selasa (16/8) mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan pengeluaran bagi program kesehatan reproduksi dan layanan pengasuhan anak secara nasional.

Pemerintah daerah didorong untuk menawarkan subsidi, potongan pajak, asuransi kesehatan yang lebih baik, serta pendidikan, perumahan, pekerjaan bagi keluarga muda.

Kota-kota China yang lebih kaya telah membagikan pajak dan kredit perumahan, tunjangan pendidikan dan bahkan insentif tunai untuk mendorong perempuan memiliki lebih banyak anak, dan pedoman terbaru berusaha mendorong semua provinsi untuk meluncurkan langkah-langkah tersebut.



Simak Video "Sistem Regulasi Vaksin China Lolos Penilaian WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT