ADVERTISEMENT

Kamis, 18 Agu 2022 09:34 WIB

'Resesi Seks' di China Nyata, Bakal Seperti Ini Efeknya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Ilustrasi warga China. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Penurunan angka kelahiran China diyakini imbas 'resesi seks' yakni turunnya gairah pasangan untuk berhubungan seks, menikah, atau memiliki anak. Dalam studi 'The Challenges of Low Birth Rate in China' yang dimuat Wiley, hal itu disebabkan adanya perubahan budaya masyarakat.

Salah satunya, semakin banyak wanita China menganggap pernikahan dan menjadi orangtua menjadi adalah aspek yang tidak lagi penting dalam kehidupan. Lantas apa efek 'resesi seks' di China?

Jika tidak segera ditangani, para ahli menilai populasi muda yang menurun akan berdampak pada situasi sosial hingga ekonomi China di masa mendatang. Hal ini dikarenakan meningkatnya populasi lansia yang akan bergantung.

Penurunan tingkat pertumbuhan populasi di China tercatat signifikan pada 2021, dengan total 7,52 kelahiran per 1.000 individu. Sementara di tahun sebelumnya masih berada di angka 8,52.

Angka kelahiran di tahun 2021 merupakan yang terendah sejak tahun 1949. "Tingkat kelahiran China telah menurun sejak awal abad ke-21, dengan pihak berwenang baru-baru ini mengklaim tingkat kesuburan hanya 1,8, sedangkan angka sebenarnya mungkin mendekati 1,1," demikian jelas pakar di China.

Statistik tahun 2021 menunjukkan sekitar 11 juta bayi lahir. Ini menandakan penurunan yang signifikan dari 18 juta di 2016 silam, yang sampai sekarang dianggap sebagai jumlah kelahiran terendah sejak tahun 1960-an pada saat itu.

"Ini merupakan tantangan serius bagi perkembangan masa depan China," kekhawatiran para ahli.

Komisi Kesehatan Nasional China mendesak pemerintah daerah dan pusat melakukan segala cara termasuk tawaran asuransi kesehatan anak, subsidi biaya rumah hingga pekerjaan yang layak bagi pasangan untuk berkeluarga. Otoritas kesehatan baru-baru ini juga meningkatkan pelayanan di perawatan kesuburan dan menyoroti pentingnya pencegahan kasus aborsi.

"China akan mencegah aborsi dan mengambil langkah-langkah untuk membuat perawatan kesuburan lebih mudah diakses sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia," sebut Otoritas Kesehatan Nasional China, Selasa (16/8), dikutip dari Reuters.



Simak Video "Sistem Regulasi Vaksin China Lolos Penilaian WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT