ADVERTISEMENT

Kamis, 18 Agu 2022 12:36 WIB

Round-Up

Fakta-fakta 'Resesi Seks' yang Hantui China hingga Jepang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Getty Images/Kevin Frayer
Jakarta -

China belakangan dihantui 'resesi seks', turunnya gairah berhubungan seks, menikah, atau memiliki anak. Angka kelahiran terus merosot, bahkan diprediksi bakal kembali mencetak rekor tahun ini.

Per 2021, berada di 7,52 per 1.000 individu, terendah sejak 1949. Sementara data terbaru per tahun ini sudah 11,5 persen lebih rendah dari tahun lalu.

Penyebabnya disebut antara lain permasalahan ekonomi, hingga semakin banyak wanita yang menganggap pernikahan dan memiliki keluarga tidak lagi penting. Berikut fakta-fakta 'resesi seks' yang menghantui China.

1. Penyebab Resesi Seks

Seperti yang sudah diberitakan, banyak pasangan 'ogah' memiliki anak berkaitan dengan gaya hidup yang tinggi. Dikutip dari The Strait Times, Oktober lalu Liga Pemuda Komunis China merilis publikasi yang melakukan survei pada wanita yang tinggal di perkotaan China, 50 persen di antaranya menyatakan enggan menikah.

Ada beberapa alasan di baliknya, yakni biaya pernikahan dan beban ekonomi memiiliki momongan. Sepertiga dari responden bahkan menyebut tidak percaya menikah hingga mengaku tak pernah jatuh cinta.

Kultur bekerja 9-9-6, saat warga bekerja dari 9 pagi hingga jam 9 malam juga bersinggungan dengan isu penyebab 'resesi seks' ini.

2. Jurus Baru China

Menanggapi tren tajam penurunan angka kelahiran, Komisi Kesehatan Nasional China mendesak pemerintah menyiapkan sejumlah program yang fokus pada fasilitas kesehatan terkait kesuburan. Baru-baru ini, China juga mengupayakan pencegahan angka aborsi yang berpengaruh pada tingkat kelahiran.

Pemerintah China bahkan didesak untuk menyiapkan kebijakan seperti memperpanjang cuti hamil, memangkas pajak, subsidi perumahan, hingga biaya merawat anak. Segala cara diupayakan demi menghindari angka kelahiran terus merosot.

3. Efek Resesi Seks

Efek 'resesi seks' yang memicu rendahnya angka kelahiran, membuat populasi China terancam menyusut. Dikhawatirkan, populasi lansia akan lebih mendominasi di masa mendatang, sementara usia produktif terus berkurang sehingga berisiko pada aspek sosial dan ekonomi.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Sistem Regulasi Vaksin China Lolos Penilaian WHO"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT