Viral Emak-emak Ngumpul Pakai Inhalasi Hidrogen, Amankah? Ini Kata Dokter Paru

ADVERTISEMENT

Viral Emak-emak Ngumpul Pakai Inhalasi Hidrogen, Amankah? Ini Kata Dokter Paru

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Senin, 05 Sep 2022 13:00 WIB
Viral inhalasi hidrogen
Emak-emak ngumpul pakai inhalasi hidrogen. Foto: Tangkapan Layar TikTok
Jakarta -

Viral sebuah video berisi sekumpulan emak-emak yang berkumpul sambil menggunakan alat terapi inhalasi hidrogen. Video tersebut awalnya viral di TikTok, diunggah oleh akun @rickytanlwg. Unggahan ini sontak dibanjiri komentar netizen.

"Ini bukan sakit ya gengs. Tapi lagi inhalasi hidrogen dari Fontaine, biar makin sehat guys," tulis narasi di video tersebut.

Dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP, FISR, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan secara umum penggunaan alat inhalasi hidrogen aman dilakukan. Namun, lebih baik penggunaanya juga disertai pengawasan secara medis.

"Sebetulnya aman, cuma saya rasa perlu ada pemantauan petugas kesehatan, jadi ada standar ukuran dan penggunaan. Ya walaupun ini teruji aman kan," ujarnya dihubungi detikcom, Senin (5/9/2022).

Meski demikian, dr Erlang mengingatkan bahwa penggunaan dalam jangka waktu yang terlalu sering bisa menimbulkan risiko menggeser asupan oksigen. Konsentrasi hidrogen yang terlalu banyak dihirup menurutnya akan terlalu mendominasi dan menurunkan oksigen.

"Risiko tetap ada karena kalau terlalu tinggi konsentrasinya akan menggeser konsentrasi oksigen yang kita hirup sehingga akan menyebabkan kekurangan oksigen," ungkapnya.

"Yang saya maksud konsentrasi adalah hidrogennya, dalam komposisi udara bebas kan 21 persen, ketika hidrogen dinaikin, sudah tentu menggeser yang lain. Oksigen misalnya bisa turun tergeser, jangan banyak-banyak makannya," sambungnya.

Selain itu, beberapa netizen juga berkomentar bahwa penggunaan inhalasi hidrogen berisiko menyebabkan paru-paru basah. Namun, dr Erlang menyangkal hal tersebut dan menyatakan tidak ada kaitan antara paru-paru basah dan inhalasi hidrogen.

"Sekali lagi tidak ada hubungannya, karena beda penyebab, kan paru-paru basah itu penyakit seperti TBC (tuberkulosis) gitu. Itu kan infeksi jadi tidak ada risiko kesana karena berbeda lagi ini," jelasnya.

NEXT: Hanya pelengkap, tidak menggantikan terapi utama.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT