Terbaru Setelah FWB, Tren Berisiko 'Sleepover Date' Viral di Medsos!

ADVERTISEMENT

Terbaru Setelah FWB, Tren Berisiko 'Sleepover Date' Viral di Medsos!

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kamis, 08 Sep 2022 10:05 WIB
A portrait of a couple standing on a bedroom together, a man wrapping his hand on the womans shoulder, for marriage life, relationship and family life concept.
Viral tren sleepover date di media sosial. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Pranithan Chorruangsak)
Jakarta -

Kini istilah 'sleepover date' marak beredar di linimasa media sosial. Istilah tersebut mengacu pada aktivitas menginap bersama pacar. Namun istilah tersebut menuai kritik sejumlah warganet yang menilai, istilah tersebut merujuk pada aktivitas seks bebas.

Psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menegaskan istilah 'sleepover date' merupakan bentuk pengembangan menyusul istilah-istilah yang sudah pernah ada sebelumnya seperti Teman tapi Mesra (TTM) atau Friends with Benefits (FWB).

"Pandangan saya, ini (sleepover date) menjadi fenomena sosial yang dipopulerkan dengan istilah-istilah baru untuk menjelaskan hubungan satu orang dengan orang lainnya dengan lebih mudah," jelas Sari saat dihubungi detikcom, Rabu (7/9/2022).

"Mungkin kalau sebelum-sebelumnya, istilah dalam pasangan itu cuman menikah statusnya, atau berpacaran, kemudian berkembang ada yang TTM (Teman tapi Mesra), berkembang lagi menjadi FWB (Friends with Benefits), sekarang berkembang lagi menjadi 'Sleepover Date'. Seolah-olah semakin menjelaskan hubungannya itu seperti apa, tapi dengan kata yang singkat," sambungnya.

Lebih lanjut menurutnya, kemunculan istilah 'sleepover date' benar bisa merujuk pada aktivitas seks bebas. Dengan istilah tersebut, kesan vulgar pada perilaku seks bebas bisa dikaburkan. Ia khawatir, jika istilah tersebut semakin marak digunakan, perilaku seks bebas ikut semakin ternormalisasi. Padahal bagaimana pun, perilaku seks bebas bisa berimbas pada fisik hingga mental.

"Memang dari kata-katanya sendiri pun, ini orang sudah bisa menyimpulkan arahnya ke sana. Tapi yang menjadi saya khawatir kalau dari sudut pandang psikologi, ini seolah-olah nanti istilah yang lebih mudah dikatakan. Semakin mudah dikatakan, menjadi normalisasi seolah-olah ini adalah hal yang normal, hal yang wajar, baik-baik saja," terangnya.

"Padahal, untuk hal yang berisiko ini disayangkan sekali. Untuk hal-hal berisiko, yang sifatnya bisa merugikan baik secara fisik maupun mental, ini seharusnya jangan dinormalisasi," imbuh Sari.

Simak video 'Alasan Harus Berhenti Ikutan Fenomena FWB Menurut dr Boyke':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT