Tren 'Sleepover Date' Disebut Normalisasi Seks Bebas, Psikolog Sorot Dampaknya

ADVERTISEMENT

Tren 'Sleepover Date' Disebut Normalisasi Seks Bebas, Psikolog Sorot Dampaknya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kamis, 08 Sep 2022 13:32 WIB
ilustrasi friends with benefits (fwb)
Ilustrasi penjelasan psikolog tentang bahaya tren 'Sleepover Date'. Foto: Getty Images/iStockphoto/Diversity Studio
Jakarta -

Media sosial kini diramaikan tren istilah 'sleepover date' yang diartikan sebagai aktivitas menginap bersama pacar. Istilah ini menuai banyak kritik lantaran dianggap membenarkan perilaku seks bebas. Psikolog menegaskan, normalisasi seks bebas berisiko memicu sederet efek fisik maupun psikis.

Menurut psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, istilah 'sleepover date' berisiko mengaburkan kesan vulgar pada perilaku seks bebas. Ia khawatir semakin lumrah istilah tersebut digunakan, semakin perilaku seks bebas yang termuat dalam istilah tersebut dinormalisasi.

"Yang menjadi saya khawatir kalau dari sudut pandang psikologi, ini seolah-olah nanti istilah yang lebih mudah dikatakan. Semakin mudah dikatakan, menjadi normalisasi seolah-olah ini adalah hal yang normal, hal yang wajar, baik-baik saja," terangnya pada detikcom, Rabu (7/9/2022).

"Padahal, untuk hal yang berisiko ini disayangkan sekali. Untuk hal-hal berisiko, yang sifatnya bisa merugikan baik secara fisik maupun mental, ini seharusnya jangan dinormalisasi," sambung Sari.

Apa Bahayanya?

Sari menjelaskan, perilaku seks bebas sebagaimana dikandung dalam 'sleepover date' bisa berdampak pada fisik dan psikis. Khususnya, pada anak-anak muda yang masih rentan terpengaruh oleh faktor sosial. Misalnya pada fisik, perilaku seks bebas berisiko memicu penyakit menular seksual, kehamilan dini, serta peningkatan aborsi.

"Risiko fisik itu pasti dampaknya besar sekali terhadap psikologi. Keberhargaan diri, kemudian risiko dia secara sosial, aktualisasi dirinya di hal-hal lain, itu menjadi fokusnya kurang karena terlalu asyik dengan hal-hal yang seperti ini. Jadi fisik dan psikologis tentu dampaknya besar," jelas Sari.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT