Bukti Vape Bukan Alternatif Berhenti Merokok! Ahli Beberkan Efek ke Jantung

ADVERTISEMENT

Bukti Vape Bukan Alternatif Berhenti Merokok! Ahli Beberkan Efek ke Jantung

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 28 Sep 2022 17:30 WIB
vape
Ilustrasi vape. Foto: shutterstock
Jakarta -

Ketua PP PERKI dr Radityo Prakoso menegaskan vape bukan alternatif berhenti merokok. Faktanya, ada lebih dari 2 ribu kasus yang dilaporkan mengidap cedera paru akibat penggunaan vape.

Vape juga disebut bisa berisiko bagi kesehatan jantung. "Meskipun memiliki kandungan bahan kimia yang lebih sedikit dibanding rokok biasa, vape tetap tidak aman. Pada tahun 2020, terdapat 2.807 kasus vaping use associated lung injury yang dilaporkan CDC," terang dia dalam konferensi pers Rabu (28/9/2022).

"Vape membahayakan kesehatan jantung dan paru, risiko penyakit paru kronis dan asma. Efek adiksi vape sama dengan rokok biasa," sambungnya.

dr Radityo menyayangkan banyak perokok beralih ke vape dengan harapan mengurangi risiko kesehatan. Nyatanya, baik vape maupun rokok sama-sama berbahaya bagi jantung maupun paru.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga disebutnya tidak menerima izin edar vape sebagai alternatif rokok.

"Vape tidak menerima lisensi FDA sebagai produk alternatif untuk berhenti merokok. jadi sekali lagi vape bukan alternatif berhenti merokok, vape sama saja dengan merokok," sebut dia.

Apa saja gejala jantung yang perlu diwaspadai?

  • Rasa tidak nyaman area dada (nyeri, sesak, tertekan, terbakar)
  • Mual, muntah
  • Keringat dingin
  • Pusing atau pingsan
  • Nyeri menjalar hingga ke lengan, rahang tenggorokan, atau punggung
  • Bengkak pada kaki
  • Mudah lelah
  • Berdebar-debar, detak jantung tidak teratur
  • Batuk tidak kunjung sembuh dengan sputum pink muda atau putih berbusa

Perlu diketahui, dr Radityo mengungkap risiko jantung pada perokok aktif juga meningkat 25 hingga 30 persen. Sementara data secara umum melalui laporan IHME, satu dari tiga kematian di dunia setiap tahun disebabkan penyakit jantung.

Tren penyakit jantung di Indonesia juga tercatat meningkat dari semula prevalensinya di 9,5 persen kini sebesar 1,5 persen.



Simak Video "Bahaya Vape Vs Rokok"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT