Kisah Para Pengidap Cerebral Palsy, Gangguan Otak yang Hambat Fungsi Motorik

ADVERTISEMENT

Kisah Para Pengidap Cerebral Palsy, Gangguan Otak yang Hambat Fungsi Motorik

Alethea Pricila - detikHealth
Kamis, 06 Okt 2022 12:45 WIB
hari cerebral palsy
Hari cerebral palsy sedunia 2022. Foto: detikhealth/Alethea Pricila
Jakarta -

Cerebral palsy merupakan penyakit yang memengaruhi pergerakan dan postur seseorang. Kondisi ini umumnya terjadi sejak masa kanak-kanak. Penyakit ini disebabkan karena adanya kerusakan pada otak yang belum matang dan berkembang biasanya paling sering sebelum lahir.

Ada beberapa gejala dan dampak yang dirasakan oleh seseorang yang mengidap cerebral palsy. Diketahui mereka memiliki gejala dan dampak yang berbeda-beda antara satu sama lain, tergantung dari bagian tubuh atau otak mana yang terkena.

Salah satunya adalah Aisyah Cahyu Cintya atau yang paling akrab disapa Ica, mahasiswa semester 7 itu merupakan salah satu penyandang cerebral palsy yang juga merupakan pendiri dari Jendela Cerebral Palsy. Ia menceritakan penyakitnya ini sudah terjadi sejak ia masih bayi karena keterlambatan lahir.

"(Cerebral palsy) dari lahir, aku karena keterlambatan saat melahirkan akibatnya tidak menangis, makanya keterlambatan motorik didiagnosa umur satu tahun," ceritanya saat ditemui detikcom saat acara peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia di Jakarta Pusat, Rabu (5/10/2022).

Akibatnya, seiring bertambahnya usia Ica merasakan otot-otot menjadi lebih kaku yang menyebabkannya memiliki keterlambatan aktivitas dan bicara. Berbeda dengan Ica, penyandang cerebral palsy lainnya, Nadia (30) menceritakan penyakit ini dialaminya karena adanya kerusakan pada otak sebelah kiri bawah yang membuatnya saat berusia 3 bulan tidak bisa menggerakan kepalanya.

"Dari kecil emang aku udah ada gejalanya, nggak bisa angkat kepala. Tapi karena itu orang tua aku jadinya dari aku usia 3 bulan udah kemana-mana," ucapnya.

Dikutip dari Mayo Clinic, gangguan otak yang menyebabkan cerebral palsy tidak bisa berubah seiring berjalannya waktu. Hal ini membuat gejalanya biasanya tidak memburuk seiring bertambahnya usia. Namun, semakin dewasa beberapa gejala juga mungkin menjadi lebih atau kurang jelas. Oleh karena itu, salah satu cara pengobatannya adalah dengan terapi guna mencegah adanya pemendekan otot atau kekakuan otot.

"Kalau memang ada orang tua yang bernasib sama kayak aku, cepet-cepet anaknya ditangani karena lebih cepat itu baik," pesan Nadia.



Simak Video "Peringati Hari Cerebral Palsy, CT ARSA Foundation Gelar Kampanye Edukasi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT