Kisah Aurelie Moeremans di 'Broken Strings' Jadi Pengingat Penting Bahaya Grooming

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Senin, 12 Jan 2026 11:31 WIB
Aurelie Moeremans. (Foto: Palevi/detikcom)
Jakarta -

Kisah Aurelie Moeremans di bukunya, 'Broken Strings', bukan sekadar memoar perjalanan hidup biasa. Melalui pengakuannya menjadi korban child grooming di usia 15 tahun, Aurelie memberikan peringatan bahwa ancaman kekerasan seksual sering kali datang dari orang terdekat dan sulit dideteksi sejak dini.

Melalui unggahan di media sosialnya, Aurelie menegaskan bahwa tujuannya merilis 'Broken Strings' adalah agar pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang lain. Ia ingin para gadis muda bisa mengenali tanda-tanda manipulasi sebelum terlambat, dan bagi para penyintas lainnya untuk berani mengambil kembali 'suara' mereka yang pernah dirampas.

Bahaya terbesar dari grooming adalah sifatnya yang sangat sabar. Pakar psikologi dari CPMH UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., menekankan bahwa esensi dari grooming adalah persiapan. Pelaku menginvestasikan waktu untuk membangun kepercayaan agar korban "siap" menerima pelecehan sebagai hal yang normal.

"Grooming itu maknanya positif, yaitu mempersiapkan supaya nanti hasilnya lebih siap atau baik... Namun dalam kasus ini, memang segala hal dilakukan untuk mempersiapkan anak atau remaja menjadi target," terang Nurul dikutip dari laman UGM.

Pelaku sering kali masuk melalui pintu 'perhatian' seperti memberikan hadiah atau mengajak jalan-jalan. Inilah yang membuat korban merasa memiliki hubungan romantis yang tulus, padahal itu adalah awal dari kontrol total pelaku terhadap korban.




(kna/kna)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork