Mana Lebih Berefek pada Bobot, Makan dengan Frekuensi Jarang atau Sering?

Mana Lebih Berefek pada Bobot, Makan dengan Frekuensi Jarang atau Sering?

- detikHealth
Selasa, 24 Feb 2015 10:33 WIB
Mana Lebih Berefek pada Bobot, Makan dengan Frekuensi Jarang atau Sering?
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Mereka yang sedang ingin menurunkan berat badan seringkali dengan sengaja mengurangi frekuensi makan mereka. Tak sedikit pula yang kemudian rela berlapar-lapar dalam jeda waktu yang cukup lama.

Padahal studi terbaru justru membuktikan bahwa orang dewasa yang memiliki frekuensi makan lebih sering dengan porsi sedikit, memiliki penurunan bobot lebih stabil dibandingkan mereka yang makan dengan frekuensi sedikit namun porsinya besar.

Mereka yang makan lebih sering juga cenderung jarang makan di malam hari, yang merupakan salah satu kontribusi penyebab kegemukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Makan lebih sering sepanjang hari membuat lebih banyak asupan sehat yang masuk, termasuk makanan rendah kalori, yang kemudian membuat kalori masuk juga lebih rendah," ungkap Elena Tovar, ahli diet klinis di Montefiore Medical Center, New York, seperti dikutip dari Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, Selasa (24/2/2015).

Baca juga: Mau Langsing? Lakukan 6 Hal Ini di Malam Hari Untuk Bantu Turunkan Bobot

Menurutnya, masuk akal bila dikatakan makan lebih sering membantu 'meredakan' rasa lapar berlebihan sehingga Anda akan terhindar dari keinginan untuk makan banyak di malam harinya.

Untuk membuktikan teori ini, para peneliti dari Imperial College London dan Feinberg School of Medicine menganalisis data dari 2.385 orang dewasa dari penelitian yang dilakukan antara tahun 1996 dan 1999.

Mereka menemukan bahwa peserta yang makan kurang dari empat kali selama periode 24 jam memiliki indeks massa tubuh (IMT) rata-rata 29,0 dan mengonsumsi rata-rata dari 2.472 kalori. IMT 18,5-24,9 sendiri dianggap sebagai batas berat badan normal dan IMT di antara 25-29,9 dianggap sebagai kelebihan berat badan. Sementara IMT di atas 30 dianggap obesitas.

Sebaliknya, peserta yang makan enam kali atau lebih selama 24 jam memiliki IMT rata-rata 27,3 dan mengonsumsi rata-rata 2.129 kalori. Mereka yang makan lebih sering juga cenderung mengonsumsi makanan yang rendah kalori dan tinggi nilai gizi seperti sayuran.

Baca juga: Hindari Makan di Area Ini Jika Tak Ingin Badan Makin Melar

(ajg/up)

Berita Terkait