Kondisi seperti ini sangat tidak disarankan oleh nutrisionis Leona Victoria Djajadi. Sebab menurutnya, obat apapun yang dikonsumsi oleh ibu menyusui, pasti akan 'tersalur' di ASI untuk bayi.
"Saya tidak setuju dengan penggunaan pil maupun jamu pelangsing saat menyusui. Beberapa obat paten yang aman dikonsumsi ibu sudah dilakukan riset, sementara obat yang tidak berpaten tidak bisa diketahui efeknya untuk anak," tutur Victoria dalam acara live chat detikHealth dan detikForum bertema 'Diet Tepat Pasca Melahirkan' yang digelar di kantor redaksi detikcom baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Victoria melanjutkan, kebanyakan obat-obat pelangsing yang beredar saat ini memiliki sifat diuretik dan pencahar, sehingga membuat peminumnya menjadi sering buang air kecil dan buang air besar. Mengonsumsi obat semacam ini dalam jangka waktu lama akan menyebabkan saluran pencernaan menjadi malas bergerak sendiri.
"Nanti efeknya malah jadi sulit buang air kecil dan buang air besar. Lagipula kalaupun kurus, kurusnya ya karena kekurangan air, bukan pengurangan lemak," imbuh Victoria.
Padahal saat menyusui kebutuhan cairan dalam tubuh ibu justru sangat besar, karena akan digunakan untuk membentuk ASI. Mengonsumsi obat pelangsing sembarangan justru bisa membuat ibu dehidrasi dan berdampak pada penurunan produksi ASI.
"Lagipula semua obat pasti ada efek sampingnya. Nah, obat 'herbal' seperti ini takutnya tidak bersertifikasi, sehingga tidak dilaporkan apa efek sampingnya," tutur lulusan University of Sydney tersebut.
Baca juga: Pola Makan Asal dan Kegemukan Saat Hamil, Kelak Bayi Berisiko Infertil
(ajg/vit)











































