Jumat, 28 Jun 2019 20:17 WIB

Transformasi Aria, 'Bocah Tergemuk' yang Sukses Turunkan Bobot 87 Kg

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Aria saat 192 kg vs Aria saat 87 kg. Foto: dok. pribadi Ade Soemantri Aria saat 192 kg vs Aria saat 87 kg. Foto: dok. pribadi Ade Soemantri
Jakarta - Pertengahan tahun 2017, nama Aria Permana atau sebelumnya disebut Ariya atau Arya ramai di kalangan warganet. Hal ini disebabkan Aria yang saat itu berusia 12 tahun telah mencapai bobot hingga 192 kg, otomatis membuatnya masuk dalam kategori obesitas ekstrem.

Santernya nama Aria menyita perhatian salah satu media Inggris, Daily Mail, yang memberinya julukan 'World Fattest Boy' atau Bocah Tergemuk Sedunia. Obesitas ekstrem itu juga menyulitkan Aria beraktivitas atau bahkan sekadar duduk sekalipun.

Kini Aria telah berhasil menurunkan bobotnya hingga 87 kg dan mengikis gelar Bocah Tergemuk Sedunia. Berikut perjalanan transformasi Aria yang telah dirangkum oleh detikHealth:



1. Diawali obat penambah nafsu makan
Aria lahir pada 15 Februari 2006 secara normal dengan berat badan 3,7 kg di Karawang, Jawa Barat. Tumbuh kembangnya normal seperti anak seusianya. Namun dituturkan oleh Ade Soemantri (43), ayahnya, obesitas yang dialami Aria diawali saat ia mengalami diare parah.

Sakit diare parah di umur 5 tahun tersebut membuatnya sempat enggan makan. Dokter anak yang pada waktu itu merawat Aria memberikan obat penambah nafsu makan dan dari situlah masalah makan Aria bermula, tiba-tiba ia memiliki nafsu makan yang tinggi. Ia lebih menyenangi mi instan, makanan berminyak, dan minuman manis.

Aria saat SD.Aria saat SD. Foto: Frieda/detikHealth


2. Berat mencapai 90 kg saat SD
Nafsu makan yang berlebih dan pola makan yang tidak sehat membuat bobot Aria naik drastis hingga mencapai 90 kg walau usianya masih 7 tahun. Ia menggemari mi instan dan minuman manis gelas.

"Kalau makan mi instan bisa sampai 2 bungkus sekali makan, kalau sehari berarti 6 bungkus, tiga kali makan. Sama sehari habis 20 gelas minuman manis, nggak minum air putih, sampai harus nyetok," tutur Ade saat dikunjungi oleh detikHealth di kediamannya di Kab. Karawang, beberapa waktu lalu.

3. Raih gelar 'World's Fattest Boy'
Aria mengaku tiap satu jam terasa lapar hingga pola makannya tidak terkontrol. Bobotnya melonjak cepat hingga mencapai angka 192 kg saat ia berusia 10 tahun di 2016 lalu.

Ia lalu mulai kesulitan berjalan, bergerak dan bahkan harus berhenti sekolah. Berita tentangnya mulai tersebar luas hingga terdengar oleh Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana dan dibawa ke RS Hasan Sadikin.

Aria sempat ditangani 13 dokter yang terdiri dari dokter ahli gizi, kejiwaan serta dokter spesialis. Ia juga sempat dirawat dan berat badannya turun, tapi naik lagi. Saat itu pula media Inggris Daily Mail mendengar kabar tentangnya, menjuluki Aria sebagai World's Fattest Boy, dan Museum Rekor Indonesia menjuluki Anak dengan Bobot Terberat.

Aria saat dibimbing Ade Rai.Aria saat dibimbing Ade Rai. Foto: various


4. Mulai dibimbing Ade Rai
Kabar Aria sampai ke telinga binaragawan Ade Rai. Ade Rai tidak mengajak Aria langsung berolahraga, namun ia memberikannya beberapa alat yang bisa membuatnya lebih banyak bergerak, seperti bola, raket untuk bulu tangkis, barbel dan stamper.

"Yang jujur ya kita selama ini yang menjadikan motivator atau motivasi dalam olahraga dari awal Aria 192 (kilogram), dari Bandung sampai sekarang yaitu Om Ade Rai. Yang sering ngasih teknik gimana cara olahraga yang bagus buat Aria, bagaimana pola makan Aria dia sangat memberikan masukan-masukan yang berguna bagi kami," ungkap Ade Soemantri.

Ade Rai juga mengaku membantu orang tua Aria untuk mulai memberikan makanan yang lebih sehat. Misal dengan mulai mengganti makanan yang digoreng dengan dipanggang atau direbus dan memperbanyak sayur.


5. Operasi 'pangkas' lambung
Kala itu November 2016, merupakan puncak di mana Aria sedang berat-beratnya. Ia mengalami banyak kesulitan yang diakibatkan ukuran tubuhnya, seperti berjalan dan sekedar bergerak. Kemudian datang tawaran dari OMNI Hospitals Alam Sutera pada Juli 2017.

Tim yang dipimpin oleh dr Handy Wing, SpB, FBMS, FICS, dokter spesial bedah bariatrik beserta dokter gizi, dokter spesialis jantung, dokter anak, dan masih banyak lagi berencana melakukan bedah bariatrik gastric bypass lambung. Operasi ini guna mengatasi obesitas ekstrem yang dialaminya.

"Operasi cuma membantu makannya nggak lebih dari lima sendok sama nggak cepet laper. Udah. Tapi apa yang diisi, olahraga apa, aktivitas sehari-hari ngapain, itu ya orang tua dan Aria sendiri yang ngejalanin. Itu kredit paling besar," kata dr Handy, beberapa waktu lalu.

Saat pemeriksaan untuk operasi bariatrik.Saat pemeriksaan untuk operasi bariatrik. Foto: dr Handy Wing/dok. pribadi


6. Berat mulai turun signifikan
Operasi bariatrik lambung yang dijalani Aria berbuah hasil. Berat badannya mulai berangsur-angsur turun. Pada Mei 2018 lalu, berat badannya bisa turun mencapai 102 kg dan ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

"Masih pengen kurusin lagi. Akhir tahun ini pengen sampe 80-an kilogram. Pengen ngebela timnas. Mau gabung timnas, sama Liverpool juga," ungkap Aria, yang kini hanya bisa makan sekitar lima sendok dan bisa muntah jika kelebihan.

Tekad Aria menguruskan badan didorong oleh keinginan terus bermain bersama teman-temannya, bisa bepergian dengan bebas, dan tentu mewujudkan cita-citanya sebagai pesepak bola.

7. Operasi kedua terhambat biaya
Akibat bobot yang turun drastis, kini Aria harus bersiap untuk menjalani operasi kedua, yakni operasi pengangkatan kulit yang menggelambir di tubuhnya setelah mengalami peregangan akibat lemak yang sebelumnya menumpuk di tubuh Aria.

"Direncanakan nanti operasi plastiknya kira-kira berat badannya ada 70 atau 80 kilogram," tutur Ade Soemantri, saat ditemui di kawasan Tendean.

Walau rencana semula operasi ini akan dijalankan pada akhir tahun 2018, sayangnya karena kendala biaya Aria belum menjalani operasi tersebut. Diperkirakan biaya akan menghabiskan 200 juta rupiah, jumlah yang sangat besar bagi kedua orang tuanya.

Berat Aria kini sudah mencapai 87 kilogram dan duduk di bangku SMP. Sayangnya perjalanannya belum usai, karena kulit gelambir Aria membuatnya cukup minder dan terganggu. Ade mengaku hanya ingin Aria bisa menjalani operasi tersebut agar bisa beraktivitas normal seperti anak-anak lainnya.

"Kalau Aria lagi jalan dan bajunya longgar keliatan nggak nyaman banget, kulit tangan dan perut gerak-gerak mengikuti gerakan langkah Aria," kata Ade yang kini membuka donasi untuk membantu biaya operasi Aria tersebut.

Aria kini, berboboat 87 kg.Aria kini, berboboat 87 kg. Foto: Dok. Pribadi Ade Soemantri






Simak Video "Curhat Aria Permana Obesitas Hingga 192 Kg"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)
News Feed