ADVERTISEMENT

Rabu, 21 Sep 2022 08:31 WIB

Intermittent Fasting, Diet Puasa Melaney Ricardo yang Turun 15 Kg

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Melaney Ricardo Foto: Instagram/@melaney_ricardo
Jakarta -

Penampilan terbaru Melaney Ricardo berhasil mencuri perhatian publik. Ibu dua anak ini berhasil menurunkan berat badannya hingga 15 kg lantaran menjalani diet intermittent fasting atau diet puasa.

Penurunan berat badan ini dilakukan Melaney dengan cara mengatur pola makan. Selain itu, sejumlah olahraga seperti berenang hingga olahraga dengan bantuan aplikasi juga diterapkan oleh wanita 42 tahun ini.

"Anak-anak selalu bisa menjadi alasan yang paling terbaik untuk bisa naik kelas dalam hidup, dalam gaya hidup juga termasuk untuk hidup sehat," pesan Melaney dalam sebuah video di YouTubenya.

Sebelumnya, ibu dua anak ini menyebut sempat mencapai 87 kg setelah melahirkan anak pertamanya. Kala itu, ia sudah pernah mencoba berbagai jenis diet seperti keto hingga menghitung kalori. Namun saat itu ia tidak merasa senang dengan jenis diet tersebut. Hal ini membuat dirinya lebih memilih untuk melakukan intermittent fasting.

Apa Itu Diet Intermittent Fasting?

Dikutip dari Hopkins Medicine, orang yang menjalani diet puasa atau sering disebut intermittent fasting umumnya hanya makan pada waktu tertentu. Beberapa bukti ilmiah mengungkapkan bahwa cara ini memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan.

Ahli saraf Johns Hopkins Mark Mattson, telah mempelajari puasa intermiten selama 25 tahun. Dia mengatakan bahwa tubuh kita telah berevolusi untuk dapat hidup tanpa makanan selama berjam-jam, atau bahkan beberapa hari atau lebih lama.

Makanan yang Dihindari saat Diet Intermittent Fasting

Selama menjalani diet, air tanpa kalori seperti kopi hitam dan teh diperbolehkan. Penting juga diingat bahwa seseorang tidak akan kehilangan berat badan atau menjadi lebih sehat apabila mengonsumsi makanan seperti:

  • Junk food
  • Makanan berkalori tinggi
  • Gorengan
  • Camilan

Cara Melakukan Diet Intermittent Fasting

Ada beberapa cara berbeda untuk melakukan diet intermittent fasting, namun semuanya didasarkan pada pemilihan waktu makan yang teratur dan puasa. Seperti misalnya, seseorang mungkin mencoba makan hanya selama periode delapan jam setiap hari dan sisanya berpuasa.

Bisa juga seseorang memilih untuk makan hanya satu kali sehari atau dua kali dalam seminggu.

Mattson mengatakan bahwa setelah berjam-jam tanpa makanan, tubuh akan menghabiskan simpanan gulanya dan mulai membakar lemak. Ia menyebut ini sebagai peralihan metabolisme.

"Puasa intermiten kontras dengan pola makan normal bagi kebanyakan orang Amerika, yang makan sepanjang jam bangun mereka," kata Mattson.

"Jika seseorang makan tiga kali sehari, ditambah camilan, dan mereka tidak berolahraga, maka setiap kali mereka makan, mereka menggunakan kalori itu dan tidak membakar simpanan lemak mereka," lanjutnya lagi.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai diet ini. Jika diperbolehkan, seseorang dapat memilih pendekatan harian yang membatasi makan harian menjadi periode enam hingga delapan jam setiap hari.

Bisa juga dengan cara lain yang dikenal sebagai pendekatan 5:2. Cara ini melibatkan makan secara teratur lima hari seminggu. Selama dua hari lainnya, seseorang perlu membatasi diri pada satu kali makan 500-600 kalori. Contohnya, seperti memilih untuk makan secara normal pada setiap hari dalam seminggu kecuali hari Senin dan Kamis

Kemudian ada periode yang lebih lama tanpa makanan, seperti periode puasa 24, 36, 48 dan 72 jam, namun cara ini kemungkinan berbahaya. Pasalnya, terlalu lama tanpa makan mungkin benar-benar mendorong tubuh untuk mulai menyimpan lebih banyak lemak sebagai respons terhadap kelaparan.



Simak Video "Ahli Gizi Jawab soal Diet Harus Batasi Garam dan Gula"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT