ADVERTISEMENT

Kamis, 22 Sep 2022 06:00 WIB

Sukses Bikin Melaney Ricardo Turun 15 Kg, Kenali 7 Jenis Intermittent Fasting

Irene Putri Wibowo - detikHealth
Melaney Ricardo Melaney Ricardo (Foto: Instagram @melaney_ricardo)
Jakarta -

Diet memiliki fungsi untuk menurunkan berat badan, mencegah penyakit, hingga memperpanjang umur. Ada beragam jenis diet, salah satunya intermittent fasting yang baru-baru ini dipopulerkan artis Melaney Ricardo.

Artis berusia 42 tahun tersebut belakangan ini menjadi perbincangan karena berhasil menurunkan berat badan hingga 15 kg. Berat badannya sempat menyentuh 87 kg setelah melahirkan anak pertama, dan sempat memulihkan kondisi tubuhnya.

Berbagai jenis diet dicobanya, tetapi tidak efektif. Hingga akhirnya menemukan diet yang efektif untuk dirinya yakni intermittent diet atau kerap disebut diet puasa intermittent.

Apa itu intermittent fasting?

"Periode diet puasa intermittent fasting menghasilkan defisit kalori yang bersih, sehingga dapat menurunkan berat badan," ujar Rekha Kumar, seorang spesialis endokrinologi, diabetes, dan metabolisme di Pusat Kontrol Berat Komprehensif di Weill Cornell Medicine dan NewYork-Presbyterian di New Kota York.

Ternyata, tidak semua orang bisa menjalani diet interminttent fasting. Ada beberapa kelompok yang sebaiknya tidak menerapkannya, seperti:

  • Anak-anak atau remaja di bawah 18 tahun.
  • Wanita yang sedang hamil atau menjalankan program hamil, karena bisa mengganggu siklus menstruasi.
  • Orang yang sedang mengkonsumsi obat diabetes, sebab kadar gula darah bisa turun terlalu jauh.
  • Orang dengan riwayat gangguan makan (eating disorder).

Dikutip dari laman Everyday Health, ada tujuh jenis intermittent fasting yang bisa dicoba. Ini bisa disesuaikan dengan kemampuan dan gaya hidup orang yang mau mencobanya. Berikut penjelasannya:

1. Puasa 5:2

Ini adalah jenis intermittent fasting yang paling populer. Caranya dengan makan secara normal selama lima hari (tanpa dihitung jumlah kalorinya).

Kemudian, pada dua hari lainnya makan dengan 500-600 kalori sehari. Untuk hari-hari puasanya bisa dipilih sesuai kemampuan orang yang menjalaninya.

Jenis intermittent fasting ini jauh lebih baik daripada memotong jumlah kalori yang dikonsumsi sepanjang waktu. Namun, disarankan untuk tidak berpuasa di hari-hari yang memiliki kegiatan yang padat.

2. Puasa dengan Batas Waktu

Jenis puasa ini seseorang bisa memilih jendela makan setiap hari. Idealnya, harus menyisakan masa atau periode pausa 14-16 jam.

"Cara ini dapat membantu memaksimalkan metabolisme sel lemak dan mengoptimalkan fungsi insulin," kata ahli nutrisi dan penurunan berat badan di Dallas, Lori Shemek, PhD.

Dengan jenis ini, seseorang mengatur jendela makan misalnya dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Dengan ini, sebagian besar waktu berpuasa bisa dihabiskan untuk tidur. Namun, efek dari intermittent fasting jenis ini tergantung seberapa konsisten menjalaninya.

3. Overnight Fasting

Ini merupakan jenis intermittent fasting yang paling sederhana, yakni menjalani puasa selama 12 jam setiap hari. Misalnya seperti pilih untuk berhenti makan setelah makan malam, sebelum jam 7 malam.

Kemudian melanjutkan makan pada jam 7 pagi. Ini merupakan jumlah minimum jam puasa yang direkomendasikan.

4. Makan, Berhenti, Makan Lagi

Secara sederhana, hal ini menekankan bahwa puasa hanyalah sebatas jeda atau istirahat dari makanan, untuk sementara waktu. Seseorang yang menjalani diet ini akan menyelesaikan satu atau dua puasa, dalam kurun waktu 24 jam per minggu.

Saat puasa, sesekali bisa dikombinasikan dengan latihan beban yang teratur untuk menghilangkan lemak dalam tubuh. Dengan melaksanakan satu atau dua puasa dengan kurun waktu 24 jam selama seminggu, itu artinya tubuh kita membiarkan untuk mengurangi kadar kalori.

5. Puasa Seharian

Puasa seharian artinya hanya makan satu kali dalam sehari. Namun beberapa orang memilih untuk makan malam dan tidak akan makan lagi hingga malam hari berikutnya.

Puasa sepanjang hari berarti periode puasanya adalah 24 jam (makan malam ke makan malam atau makan siang ke makan siang), sedangkan untuk periode puasa 5:2 adalah 36 jam (misalnya makan malam saat Minggu, lalu 'puasa' saat Senin dengan makan 500 atau 600 kalori, kemudian berbuka dengan sarapan pada saat Selasa).

Namun harus dipahami juga risiko dari melakukan puasa dengan metode ini, yaitu sulit mendapatkan nutrisi tubuh yang optimal hanya dengan satu kali makan.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Ahli Gizi Jawab soal Diet Harus Batasi Garam dan Gula"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT