Jebakan Fase Plateau, Berat Badan Stagnan Meski Diet Mati-matian

Tren Diet 2026

Jebakan Fase Plateau, Berat Badan Stagnan Meski Diet Mati-matian

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Sabtu, 03 Jan 2026 20:01 WIB
Jebakan Fase Plateau, Berat Badan Stagnan Meski Diet Mati-matian
Jebakan fase plateau. Foto: Getty Images/Christian Horz
Jakarta -

Sudah menjaga pola makan dan rutin berolahraga, tapi angka di timbangan tak kunjung bergerak? Kondisi ini kerap membuat orang merasa gagal diet dan akhirnya menyerah. Padahal, berat badan yang 'mandek' di tengah program diet bisa jadi merupakan kondisi yang normal.

Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo, menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai fase plateau. Fase ini umum terjadi ketika seseorang mengalami penurunan berat badan dalam periode tertentu, lalu mendadak berhenti meski pola makan dan olahraga tetap dijalankan.

"Jadi ketika kehilangan lemak, tubuh kehilangan lemak, dia turun berat badan nih, terus abis itu nge-stuck nih, nah itu namanya plateau," ucap dr Nathania kepada detikcom, di RS Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Selasa(16/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Plateau terjadi karena tubuh memiliki mekanisme adaptasi alami. Saat berat badan turun, tubuh secara otomatis menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Salah satu bentuk adaptasinya adalah menurunkan laju metabolisme. Akibatnya, pembakaran energi menjadi lebih lambat dibandingkan saat awal diet, sehingga penurunan berat badan terasa berhenti.

ADVERTISEMENT

"Jadi ketika lemaknya kita itu hilang, tubuh itu secara alami, dia tuh seperti menurunkan metabolismenya. Jadi itu yang menyebabkan berat badannya itu stuck," lanjutnya.

Menurutnya, jika seseorang merasa pola makannya sudah terjaga, asupan makanan relatif bersih, olahraga dilakukan secara konsisten, dan anjuran dari tenaga kesehatan sudah diikuti, maka program diet sebaiknya tetap dilanjutkan. Dalam banyak kasus, penurunan berat badan akan kembali terjadi seiring waktu.

Ia juga mengingatkan tidak ada metode diet yang idealnya menghasilkan penurunan berat badan secara stabil tanpa fluktuasi. Perjalanan berat badan hampir selalu bersifat naik-turun. Ada fase turun, lalu datar, bahkan terkadang naik sedikit, sebelum akhirnya turun kembali.

"Pasti naik turun. Pasti ada waktunya dia plateau, kadang naik sedikit, terus kemudian plateau lagi, nanti baru turun lagi. Nanti setelah turun ada fase datar lagi gitu. Nah, banyak orang memang pada saat fase plateu itu mereka merasa dietnya salah lah, nggak bisa ini, nggak cocok ini. Akhirnya menyerah naik lagi," lanjutnya.

Senada, spesialis gizi klinik, Dr dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK, dari RS St Carolus Salemba, menjelaskan diet pada dasarnya adalah pola makan yang disesuaikan dengan tujuan tertentu. Salah satu tujuan yang paling sering dijalani adalah menurunkan lemak tubuh atau fat loss.

Berdasarkan literatur dan penelitian, penurunan berat badan memang cenderung lebih signifikan pada bulan pertama menjalani program diet. Pada fase awal ini, banyak perubahan yang terjadi secara bersamaan di dalam tubuh, termasuk berkurangnya cairan tubuh. Selain lemak, massa otot juga bisa ikut menurun, sehingga angka di timbangan terlihat turun cukup besar.

Namun, kondisi tersebut biasanya berubah di bulan-bulan berikutnya. Memasuki bulan kedua atau ketiga, penurunan berat badan sering kali tidak sebesar di bulan pertama. Fase inilah yang dikenal sebagai plateu, yaitu kondisi ketika berat badan terlihat melambat atau seolah berhenti turun, meski pola makan dan aktivitas fisik tetap dijalani.

Menurutnya, banyak orang salah memahami fase plateau karena hanya berpatokan pada angka timbangan. Padahal, jika dilihat lebih jauh dari sisi komposisi tubuh, perubahan tetap terjadi. Pada bulan-bulan lanjutan, terutama jika diet dibarengi dengan olahraga seperti latihan kardio dan latihan pembentukan otot, tubuh mulai mempertahankan massa otot, bahkan dalam beberapa kasus otot justru meningkat.

"Kalau orang cuman menimbang seperti itu aja kesannya adalah turunnya gak sebanyak yang pertama, tapi sebenarnya kalau di check body composition atau komposisi tubuh justru ototnya malah tetap dipertahankan atau malah ikutan naik ototnya dan itu hal yang baik. Fat lossnya tetap terjadi dengan yang misalnya sama banyaknya turunnya jadi maksudnya ada resultanya kan," kata dr Yohannessa kepada detikcom, Kamis (18/12/2025).

Ia menekankan bahwa pemahaman mengenai fase plateau dan perubahan komposisi tubuh ini penting agar orang yang sedang diet tidak mudah merasa gagal. Plateau bukan tanda bahwa program diet tidak berhasil, melainkan respons alami tubuh dalam beradaptasi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Berat Badan Hanya 22 Kg, Wanita Ini Meninggal Usai Diet Ekstrem"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)
Tren Diet 2026
14 Konten
Tren diet bermunculan silih berganti. Di 2026, tren apa lagi yang akan jadi favorit para pejuang berat badan? Ini saran pakar soal pilih-pilih diet yang sehat dan aman.

Berita Terkait