Bukber di restoran all you can eat (AYCE) selalu punya godaan tersendiri. Deretan daging panggang, gorengan, hingga dessert manis tersedia untuk dinikmati sepuasnya dalam satu sesi makan. Tak sedikit orang tergoda untuk "balas dendam" setelah puasa panjang dengan mengambil porsi besar sekaligus.
Namun, euforia itu kerap berujung tidak nyaman. Perut terasa penuh berlebihan, kembung, mual, bahkan keesokan harinya sulit buang air besar (BAB). Padahal, sebelumnya tubuh terasa baik-baik saja saat berpuasa.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada sistem pencernaan ketika makanan dalam jumlah besar, terutama tinggi lemak dan gula, masuk sekaligus setelah lambung kosong berjam-jam? Dan bagaimana cara menikmati bukber di AYCE tanpa harus 'membayar' dengan perut begah atau sembelit?
Kenapa Perut Mudah Begah Setelah Puasa Seharian?
Selama berpuasa berjam-jam, sistem pencernaan mengalami penyesuaian fisiologis. Saat tidak sedang mencerna makanan, saluran cerna memasuki pola aktivitas yang disebut migrating motor complex (MMC), yakni gelombang kontraksi periodik yang berfungsi "membersihkan" sisa makanan di lambung dan usus kecil. Pola ini akan berhenti ketika makanan kembali masuk.
Saat berbuka, terutama jika langsung makan dalam porsi besar, lambung yang sebelumnya kosong harus beradaptasi cepat. Secara normal, lambung memiliki mekanisme relaksasi untuk menampung makanan (gastric accommodation). Namun jika volume makanan terlalu banyak sekaligus, peregangan dinding lambung meningkat dan memicu sensasi penuh atau kembung (postprandial distension).
Kondisi ini makin terasa bila makanan tinggi lemak dikonsumsi dalam jumlah besar. Lemak memang memperlambat pengosongan lambung. Dalam jumlah wajar, efek ini membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Namun jika dikonsumsi berlebihan sekaligus, lambung bekerja lebih lambat dari biasanya sehingga memicu rasa penuh atau begah.
Kombinasi perubahan ritme pencernaan saat puasa dan masuknya makanan dalam jumlah besar inilah yang membuat perut lebih mudah terasa begah setelah berbuka puasa.
Daging, Lemak, dan Kurang Serat: Kombinasi Pemicu Susah BAB
Sembelit setelah makan besar, terutama tinggi protein dan lemak, bukan sekadar soal "kebanyakan makan". Komposisi makanan berperan besar dalam menentukan cepat lambatnya pergerakan usus.
Tinjauan sistematis dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa asupan serat dapat mempercepat waktu transit usus dan meningkatkan frekuensi buang air besar. Serat bekerja dengan menambah massa feses dan menarik air ke dalam usus, sehingga teksturnya lebih lunak dan mudah dikeluarkan. Tanpa cukup serat dan cairan, feses menjadi lebih keras karena air lebih banyak diserap kembali di usus besar.
Sebaliknya, makanan tinggi lemak diketahui memperlambat pengosongan lambung melalui pelepasan hormon seperti kolesistokinin (CCK). Lemak juga dapat memengaruhi ritme kontraksi saluran cerna, sehingga makanan bergerak lebih lambat.
Ketika kondisi ini terjadi bersamaan, tinggi lemak dan protein hewani, rendah serat, kurang cairan, serta perubahan pola makan mendadak saat Ramadan, pergerakan usus jadi melambat. Feses tertahan lebih lama di usus besar, air makin banyak terserap, dan hasilnya BAB terasa lebih keras dan sulit keesokan harinya.
Jadi, bukan hanya karena "kebanyakan daging", melainkan kombinasi beberapa faktor yang memperlambat gerakan alami usus.
Simak Video "Video: Bukber AYCE Mau Balas Dendam? Dokter Ingatkan Bahaya Lambung 'Overload'"
(fti/up)