Lele dikenal sebagai ikan yang mampu bertahan di berbagai kondisi lingkungan, termasuk perairan dengan kualitas yang kurang baik. Tapi tenang, budidaya lele saat ini dilakukan di lingkungan yang terkontrol, dengan pakan yang juga terjaga kualitasnya.
Dari mana bisa yakin lele budidaya tidak diberi pakan jorok? Dan bagaimana jika lele benar-benar dipelihara dalam lingkungan yang kotor dan tidak terkontrol? Apakah ikan tersebut tetap aman untuk dikonsumsi?
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan pangan, asal-usul dan cara budidaya ikan menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Lingkungan pemeliharaan dan jenis pakan yang diberikan berperan besar dalam menentukan kualitas serta keamanan lele yang sampai ke tangan konsumen.
Pakan Jorok, Petani Malah Rugi
Dari sisi petani yang membudidayakan, memberi pakan jorok pada lele sebenarnya justru merugikan. Pakar budidaya perikanan dari IPB University, Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si menjelaskan pakar lele yang tidak terkontrol berhubungan erat dengan pencapaian target panen.
"Jika pakan lele tidak terkontrol maka target panen tidak tercapai dari pertumbuhan yang lambat, rentan terhadap penyakit, daging yang tidak hygienis, kemungkinan terpapar bakteri e-coli dan yang lain besar, sehingga merugikan petani," jelasnya saat dihubungi oleh detikcom, Kamis (23/04/2026).
Selain itu, kondisi lingkungan dalam budidaya ikan memegang peran penting terhadap kualitas dan keamanan produk. Berbagai kajian di bidang keamanan pangan dan akuakultur menunjukkan bahwa kualitas air, sanitasi kolam, serta jenis pakan sangat menentukan potensi kontaminasi pada ikan konsumsi.
Lingkungan yang tercemar, baik oleh limbah organik, bakteri, maupun bahan kimia, dapat menjadi media berkembangnya mikroorganisme patogen. Akibatnya, ikan lebih rentan membawa agen kontaminan yang berisiko jika tidak dikelola dengan baik.
Terkait hal ini, Cecilia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dapat dibenarkan dari sisi keamanan pangan.
"Dari sisi keamanan pangan tidak dibenarkan. Pakan yang diberikan dan lingkungan yang kotor dapat menyebabkan kontaminasi baik secara kimia, biologi maupun fisika," ujar Cecilia.
Dengan kata lain, meskipun lele dikenal sebagai ikan yang adaptif, bukan berarti ia kebal terhadap dampak lingkungan yang buruk. Bagaimanapun, kondisi budidaya yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi yang pada akhirnya berdampak pada konsumen.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
(fti/up)