Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah gizi yang belum terselesaikan di Indonesia. Sekitar satu dari empat anak dan satu dari empat ibu hamil mengalami anemia, yang sebagian besar disebabkan oleh kekurangan zat besi. Kondisi ini menjadi perhatian karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga baru diketahui ketika sudah memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Sekretaris Indonesian Nutrition Association (INA), Dr dr Dian Novita Chandra, M.Gizi, mengatakan anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu prioritas kesehatan di Indonesia.
"Anemia defisiensi besi ini banyak terjadi pada awal kehidupan. Periode ini sangat penting untuk pertumbuhan anak, imunitas, dan menjadi dasar kesehatan hingga masa dewasa," ujarnya dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Anemia Defisiensi Besi Sering Terlambat Disadari
Anemia defisiensi besi sering disebut sebagai silent condition karena gejalanya tidak khas. Pada tahap awal, tubuh hanya mengalami penurunan cadangan zat besi sehingga belum menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Seiring waktu, apabila kebutuhan zat besi terus tidak terpenuhi, kadar hemoglobin akan ikut menurun dan anemia mulai terjadi.
"Anemia defisiensi besi dikatakan sebagai silent condition karena gejalanya biasanya tidak terlihat dan tidak spesifik," jelas dr Dian.
Karena prosesnya berlangsung perlahan, banyak keluarga tidak menyadari bahwa anak sedang mengalami kekurangan zat besi. Tanda yang muncul biasanya berupa wajah tampak pucat, tubuh mudah lelah, nafsu makan berkurang, lebih sering sakit, kurang aktif, atau sulit berkonsentrasi. Keluhan tersebut sering dianggap sebagai kondisi biasa sehingga penanganannya baru dilakukan ketika anemia sudah berkembang lebih lanjut.
Baca juga: Bagaimana AMDK Diproses di Pabriknya? |
Dampaknya Tidak Hanya Membuat Anak Lemas
Kekurangan zat besi bukan hanya memengaruhi kadar hemoglobin, tetapi juga berperan dalam berbagai proses penting di dalam tubuh, terutama perkembangan otak pada awal kehidupan. Masa bayi dan anak merupakan periode ketika kebutuhan zat besi meningkat untuk mendukung pertumbuhan, pembentukan sistem kekebalan tubuh, serta perkembangan fungsi otak.
"Bila dibiarkan terus menerus, kondisi ini akan mengurangi kapasitas belajar dan perhatian. Penelitian juga menunjukkan kekurangan zat besi yang berlanjut dapat memengaruhi fungsi kognitif hingga masa dewasa," kata dr Dian.
Karena itu, anemia defisiensi besi tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang hanya menyebabkan tubuh lemas. Dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang apabila tidak dicegah sejak awal kehidupan.
Tidak Cukup Hanya Makan Makanan Kaya Zat Besi
Mencukupi kebutuhan zat besi tidak cukup hanya dengan memilih makanan yang mengandung mineral tersebut. Tubuh juga harus mampu menyerap zat besi secara optimal agar dapat dimanfaatkan untuk membentuk hemoglobin dan mendukung berbagai fungsi penting lainnya.
"Yang paling penting tentunya makanan. Tetapi tidak cukup hanya makan makanan yang kaya akan zat besi. Kita juga harus memperhatikan apakah makanan ini diserap oleh tubuh dengan baik," ungkap dr Dian.
Penyerapan zat besi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah fitat yang banyak ditemukan pada serealia dan kacang kacangan. Senyawa ini dapat menghambat penyerapan zat besi, meski pengolahan tertentu seperti fermentasi pada tempe dapat membantu mengurangi efek tersebut. Sebaliknya, vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi non heme yang berasal dari pangan nabati.
Menu yang beragam, terdiri dari sumber zat besi hewani maupun nabati dan dilengkapi buah atau sayuran yang kaya vitamin C, menjadi kombinasi yang lebih baik untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi setiap hari. Apabila diperlukan, pangan fortifikasi yang mengandung zat besi dan vitamin C juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan harian.
Deteksi Dini Menjadi Kunci Pencegahan
Menurutnya, pencegahan sebaiknya dimulai sebelum anemia benar benar terjadi. Edukasi mengenai pola makan dan deteksi dini menjadi langkah penting agar kekurangan zat besi dapat dikenali ketika cadangan zat besi mulai menurun, bukan setelah kadar hemoglobin sudah rendah.
"Intinya yang paling penting adalah kita memberikan edukasi sebelum itu terjadi. Kita harus mendeteksi lebih dini, yaitu pada saat masih terjadi kekurangan zat besi, sebelum berkembang menjadi anemia," ujar dr Dian.
Menurut dr Dian, salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah skrining non invasif melalui iron calculator. Aplikasi ini menilai risiko berdasarkan pola konsumsi makanan, kecukupan vitamin C, faktor yang menghambat penyerapan zat besi, hingga riwayat anemia pada ibu dan kondisi saat lahir. Dengan cara tersebut, anak yang berisiko dapat dikenali lebih awal sehingga intervensi bisa segera diberikan sebelum berkembang menjadi anemia.
Penelitian Tunjukkan Kombinasi Edukasi dan Fortifikasi Lebih Efektif
Selain deteksi dini, pemenuhan asupan zat besi juga perlu dilakukan secara konsisten. Dalam penelitian yang dilakukan pada anak usia 1 hingga 3 tahun di wilayah perkotaan Indonesia, tim peneliti membandingkan kelompok yang hanya menerima edukasi gizi dengan kelompok yang memperoleh edukasi gizi disertai pangan fortifikasi yang mengandung zat besi dan vitamin C.
Hasilnya menunjukkan kelompok yang mendapatkan kombinasi edukasi dan fortifikasi mampu memenuhi kebutuhan zat besi harian dengan lebih baik. Kadar hemoglobin mereka juga tetap terjaga setelah empat bulan, sedangkan kelompok yang hanya menerima edukasi menunjukkan penurunan kadar hemoglobin. Temuan ini memperlihatkan bahwa edukasi perlu dibarengi dengan upaya memenuhi kebutuhan zat besi agar manfaatnya lebih optimal.
Menutup pemaparannya, ia menegaskan bahwa pencegahan anemia harus dilakukan sedini mungkin agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
"Pesannya sederhana, kita mesti deteksi lebih awal, kita berikan gizi yang baik sehingga bisa mencegah anemia defisiensi besi dan menjaga agar Indonesia memiliki generasi yang lebih baik," pungkas dr Dian.
Simak Video "Moms Mau Anak Tumbuh Optimal? Jangan Sampai Nutrisi Ini Terlewat"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)










































