Penurunan berat badan sering kali dikaitkan dengan pembatasan asupan kalori sehari-hari. Padahal, pola hidup secara keseluruhan juga dapat berperan dalam menentukan keberhasilan upaya menurunkan berat badan.
Dikutip dari Hindustan Times, ahli nutrisi asal India, Sudiksha, yang berfokus pada penurunan berat badan dan kesehatan tiroid, mengungkapkan enam kebiasaan yang terlihat sepele tetapi dapat menghambat upaya menurunkan berat badan.
"Ketika berat badan saya berlebih hingga 30 kg, saya terus menyalahkan makanan. Tapi kenyataannya? Bukan apa yang saya makan, melainkan bagaimana saya hidup," katanya dalam media sosialnya.
"Lemak perut dan pinggul pada wanita jarang disebabkan oleh kalori. Hampir selalu disebabkan oleh hormon, stres, dan kebiasaan sehari-hari yang membuat tubuh Anda tetap dalam mode penyimpanan lemak," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut beberapa kebiasaan yang bisa membuat diet gagal:
1. Melewatkan Waktu Makan
Banyak yang percaya bahwa melewatkan makan bisa membantu menurunkan berat badan lebih cepat. Namun, ini adalah kesalahpahaman yang pada akhirnya bisa menjadi bumerang.
"Tubuh Anda memasuki mode bertahan hidup, kortisol meningkat, dan lemak disimpan di sekitar perut dan pinggul sebagai perlindungan," katanya.
=== break===
2. Tidur Setelah Jam 12 Malam
Kebiasaan menunda waktu tidur bisa memengaruhi lebih dari sekadar kualitas tidur, tingkat energi, dan fokus pada hari berikutnya.
Melanggar jam biologis tubuh juga dapat mengganggu ritme metabolisme. Pada gilirannya, hal tersebut bisa memengaruhi hormon yang mengatur fungsi tubuh utama.
"Begadang mengganggu ritme sirkadian Anda dan memperlambat hormon pembakar lemak seperti leptin dan tiroid," katanya.
3. Stres Kronis
Stres kronis bisa membuat kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu lama dan mengganggu keseimbangan hormonal alami tubuh. Saat kortisol kehilangan ritme harian normalnya, kondisi ini dapat mengganggu cara tubuh menyimpan dan memproses lemak.
"Stres mental sama dengan kortisol fisik. Dan titik penyimpanan pertama kortisol adalah lemak perut," katanya.
4. Mengonsumsi Camilan "Sehat" dengan Kandungan Gula Tinggi
Beberapa produk olahan dan kemasan yang dipasarkan sebagai "camilan sehat" mungkin memiliki kalori tersembunyi, gula tambahan, serta bahan-bahan lain yang kurang bergizi. Meski bisa menjadi pilihan praktis, terlalu bergantung pada produk-produk ini dapat menghambat tujuan penurunan berat badan.
"Granola, protein bar, biskuit, semuanya meningkatkan kadar insulin dan sepenuhnya menghambat penurunan lemak."
5. Makan karena Emosi
Dikutip dari laman Healthline, stres bisa menyebabkan makan karena emosi sebagai mekanisme penanggulangan. Kombinasi antara keinginan yang dipicu stres, dan konsumsi makanan kaya kalori bisa berkontribusi pada penambahan berat badan.
"Tubuh Anda mencoba meredakan stres dengan makanan, terutama karbohidrat. Ini bukan karena kurang disiplin, tetapi karena sistem saraf mengalami kelebihan beban."
6. Tidak Memberi Waktu bagi Sistem Saraf untuk Tenang
Memiliki beberapa cara sehat untuk mengelola stres dan menenangkan diri sepanjang hari merupakan hal penting.
"Jika saraf vagus Anda tidak pernah tenang, tubuh tidak akan melepaskan lemak yang tersimpan, sebersih apa pun pola makan Anda," kata Sudiksha.
Ahli gizi tersebut menyimpulkan, "Tubuh Anda bukan keras kepala. Tubuh sedang melindungi Anda. Ubah kebiasaan-kebiasaan ini, dan hormon Anda juga akan berubah."










































