ADVERTISEMENT

Jumat, 16 Okt 2015 16:00 WIB

Saat Balita Ingin Selalu Bersama Ibunya, Tanda Tidak Mandiri?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Ketika anak gemar menguntit ke mana ibunya pergi, mungkin terlihat lucu. Tapi jika sudah begitu lengket dengan ibunya, sedikit-sedikit harus bersama ibunya, sepertinya orang tua manapun akan khawatir anaknya tumbuh jadi anak yang tidak mandiri.

"Kalau anak masih usia satu tahunan itu wajar kalau ingin selalu dekat dengan ibunya. Tapi kalau sudah tiga tahunan seharusnya sudah lebih berani menghadapi lingkungan sosial," ucap psikolog anak dan remaja, Efnie Indrianie, MPsi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (16/10/2015).

Menurut Efnie, anak yang memiliki kelekatan dengan ibunya belum tentu anak manja. Jika sudah usia tiga tahun ke atas, maka yang perlu dilakukan adalah dengan menanamkan safe and secure feeling.

Baca juga: Sering Diajak Bicara Bisa Kurangi Kebiasaan Teriak-teriak pada Balita

Dihubungi terpisah, psikolog remaja dan anak dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, jika balita di atas tiga tahun masih terlalu lekat dengan ibunya, bisa jadi dia sedang beradaptasi dengan lingkungan baru. Nah, sosok ibu adalah sosok yang paling membuatnya nyaman, sehingga terkesan nempel selalu pada ibunya.

Nah, jika anak usia tiga tahun lebih apa-apa minta ke ibunya, perlu dibimbing untuk mulai melakukan hal-hal sederhana sendiri. Apalagi jika anak sudah masuk usia sekolah, sudah bisa makan sendiri namun minta ibunya untuk menyuapi, sebaiknya ingatkan untuk melakukannya sendiri.

"Kadang ada juga yang minta dibacakan cerita, padahal dia sudah bisa baca. Bilang saja yang sekolah siapa, karena sudah bisa baca maka harus baca sendiri," saran Ratih.

Namun sering kali juga orang tua meluluskan semua permintaan anak. Anak sudah bisa pakai sepatu sendiri, minta dipakaikan sepatu. Anak minta ini dan itu akan dituruti dengan begitu mudahnya, semata-mata karena orang tua kasihan pada anak. Padahal mencintai adalah mengembangkan perasaan kasih sayang dan bukan kasihan.

Baca juga: Ingin Anak Pandai Bicara? Minta Ayah Bacakan Dongeng untuk Mereka

Terkadang ada pula anak yang manipulatif. Biasanya anak ini hiperaktif dan punya energi tinggi. Dia gemar menyuruh-nyuruh orang lain yang dirasa lebih lemah, misalnya teman atau adiknya. Menurut ratih, secara perilaku, anak ini punya masalah perilaku.

"Ini bisa karena dia copy dari lingkungan, bisa juga karena melihat orang tua semena-mena pada orang yang kerja di rumah. Meski memang anak yang manipulatif itu kreatif, meskipun creative in a bad way," tutur Ratih.

(vit/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT