Di tiga rumah sakit di Indonesia, Fahira mendapatkan diagnosis radang usus buntu (apendisitis) karena ukuran usus buntunya sudah berdiameter 8,1 milimeter, lebih besar daripada ukuran usus buntu normal yang disebutnya hanya berdiameter 6-7 milimeter. Oleh karena itu, dokter yang menanganinya di Indonesia menyarankan untuk segera menjalani operasi.
Berbeda dengan diagnosis dari rumah sakit di Indonesia, RS di Penang menyatakan bahwa Fahira tidak mengalami apendisitis atau pembengkakan pada usus buntunya. Menurut Fahira, dokter di Malaysia justru menemukan masalah pada usus besarnya.
Konten yang diunggahnya di TikTok pada Minggu (9/8) tersebut sontak menimbulkan reaksi beragam dari warganet. Banyak di antaranya yang menduga bahwa konten Fahira merupakan black campaign terhadap fasilitas kesehatan di Indonesia. Tak hanya itu, ia juga dituding mendapat endorsement dari RS di Penang.
Terlepas dari polemik terkait perbedaan diagnosis tersebut, keputusan masyarakat Indonesia untuk mencari pelayanan kesehatan di luar negeri bukanlah hal baru. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan Malaysia menjadi negara yang paling banyak dituju warga Indonesia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Selain Malaysia, beberapa negara lain yang juga menjadi tujuan berobat warga Indonesia adalah Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan.
Adapun jenis pelayanan kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan di luar negeri adalah pemeriksaan kesehatan rutin atau medical check-up (MCU), yakni 65,7 persen. Kemudian, pelayanan bedah atau operasi sebesar 19,2 persen, kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu dan anak (kespro dan KIA) 7,3 persen, pengobatan kanker 5,7 persen, kesehatan tradisional (kestrad) 1,7 persen, serta pelayanan lainnya 25,7 persen.
(suc/up)










































