Selasa, 17 Apr 2018 07:07 WIB

Bukan Tren Sesaat, Ternyata Plogging Masih Diminati di Kota Ini

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Siapa bilang ploging cuma tren sesaat? (Foto: instagram) Siapa bilang ploging cuma tren sesaat? (Foto: instagram)
Jakarta - Plogging adalah salah satu tren olahraga lari sambil memungut sampah yang diawali dari Swedia pada 2016 dan merambah ke Indonesia juga. Warganet sempat menyebut plogging hanya akan jadi tren sesaat, namun rupa-rupanya masih banyak komunitas di kota lain yang mengadakan kegiatan tersebut.

Salah satunya di Semarang. Komunitas lari FakeRunners Semarang mengadakan plogging run pada 24 Maret lalu, dan diikuti oleh Komunitas Trash Hero pada 8 April.

Kedua komunitas ini sama-sama melakukan plogging di area Car Free Day (CFD) di jalan Pemuda dan Pahlawan. Perianda, ketua dari Trash Hero mengatakan biasanya di Indonesia di mana ada banyak orang pasti ada banyak sampah, maka area CFD adalah tempat yang tepat.



"Dan benar, entah apa yg salah sama pemikiran masyarakat Semarang yg hadir di CFD, mereka seolah tidak merasa bersalah buang sampah sembarangan di jalan. Itu kenapa kita beranikan memungut sampah di depan mereka. Harapannya mereka merasa sedikit malu dengan kebiasaan buruk mereka lalu jera," ungkap Perianda saat dihubungi detikHealth, Senin (16/2/2018)

Fakerunner Semarang salah satunya, masih aktif punguti sampah.Fakerunner Semarang salah satunya, masih aktif punguti sampah. Foto: instagram


Lain lagi dengan penuturan Dhinnie, humas dari FakeRunners (FR) Semarang. Banyak warga yang bertanya-tanya mengapa mereka seperti pemulung, namun tim FR tetap menginfokan kegiatan ini kepada mereka.

Ditambahkan oleh Mei Banawi, ketua FR, bahwa ide plogging run berasal dari melihat banyaknya sampah-sampah plastik yang dibawa turun oleh para pendaki gunung.

"Salah satu penyebab global warming adalah banyak dari kita tidak mencintai lingkungan, buang sampah sembarangan dan lain-lain. Oleh sebab itu FR memulai hidup sehat dengan berlari dan membuang sampah pada tempatnya," kata Mei.

Sehat di badan, sehat pula bagi lingkungan.Sehat di badan, sehat pula bagi lingkungan. Foto: instagram


Berbeda dari Semarang, di kota Karawang plogging run diadakan saat acara COLOR RUN tanggal 1 April lalu di daerah pasar Bersih Galuh Mas. Diinisiasi oleh komunitas lari Karawang Runners agar tidak ada lagi acara 'bersih-bersih' setelah acara usai.



"Itu momen yang tepat buat kita mengedukasi orang banyak, dimanapun dan situasi apapun jika kita mau buang sampah ya harus ke tempat yang seharusnya, intinya itu," pungkas Dede, salah satu anggotanya. Karawang Runners bahkan punya julukan sendiri untuk tim plogging-nya, yaitu plogging ranger.

Masih banyak yang buang sampah sembarangan.Masih banyak yang buang sampah sembarangan. Foto: instagram


Sebelumnya, kegiatan serupa dengan plogging bahkan telah digalakkan oleh dua komunitas di Jakarta beberapa tahun lalu. Setelah tren plogging dari Swedia mengglobal, tiga komunitas lari dari Solo, Makassar dan Kab. Maros mencoba menularkan 'virus' plogging di Indonesia.

Kalaupun cuma tren sesaat, sepertinya ini tren yang positif untuk diikuti.Kalaupun cuma tren sesaat, sepertinya ini tren yang positif untuk diikuti. Foto: instagram


Terlihat minat yang cukup tinggi pada tren 'hidup sehat' baru ini. Hampir semua komunitas yang melakukan plogging run berharap kegiatan ini dapat diadopsi menjadi kegiatan rutin demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan juga kebersihan lingkungan.

Saatnya peduli pada lingkungan sekitar.Saatnya peduli pada lingkungan sekitar. Foto: instagram


(up/up)
News Feed