Kamis, 21 Mei 2020 07:42 WIB

Benarkah Paru-paru Bisa Kolaps Gara-gara Joging Pakai Masker?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
a asian woman doing a exercise in a park of Jakarta City, Indonesia, during quarantine cause corona pandemic Benarkah joging pakai masker bikin paru-paru kolaps? (Foto: Getty Images/rudi_suardi)
Jakarta -

Di tengah pandemi virus Corona seperti ini, orang-orang yang berkegiatan di luar rumah wajib menggunakan masker, tak terkecuali saat olahraga. Hal ini pun diterapkan oleh pria di China bernama Zhang Ping. Nahas, paru-parunya dikabarkan kolaps setelah berlari sejauh 4 kilometer dengan menggunakan masker.

Pria ini dilarikan ke Wuhan Central Hospital karena nyeri dada dan sesak napas. Setelah diperiksa, dia disebut mengalami paru-paru kolaps atau pneumotoraks, terjadi saat udara bocor ke luar paru-paru. Dokter menyebut keadaan ini disebabkan oleh tekanan tinggi pada organ.

Tapi benarkah hal itu terjadi karena berolahraga menggunakan masker?

Menurut dr Adria Rusli, SpP(K), dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, kondisi pneumotoraks yang dialami pria tersebut kecil kemungkinannya terjadi karena berolahraga sambil menggunakan masker. Hal itu terjadi lebih mungkin karena orang tersebut sudah memiliki penyakitnya.

"Sebetulnya sih bukan dari masker, dia udah ada bakatnya. Kemudian karena dia ada gerakan yang hebat atau karena dia tekanan napasnya terlalu kuat bisa jadi seperti itu. Jadi bukan karena masker ya," kata dr Adria saat dihubungi detikcom, Senin (20/5/2020).

Berolahraga di luar ruangan di tengah pandemi virus Corona menuai pro dan kontra.Berolahraga di luar ruangan di tengah pandemi virus Corona menuai pro dan kontra. Foto: Getty Images/RgStudio

dr Adria menjelaskan, pneumothoraks seperti yang dialami pria di China tersebut adalah adanya udara di rongga pleura, yaitu rongga tipis yang dibatasi dua selaput pleura di antara paru-paru dan dinding dada. Kondisi ini dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu spontan atau primer dan sekunder.

Primer atau spontan biasanya terjadi tanpa adanya kelainan di parunya, bisa karena perokok, genetik, atau pada laki-laki kurus. Sementara yang sekunder, biasanya disebabkan karena adanya kelainan pada paru-paru seseorang. Misalnya punya riwayat atau mengidap Tuberkulosis (TBC) dan Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kondisi ini yang paling berbahaya jika terjadi.

Namun, dr Adria mengatakan untuk kondisi yang spontan atau primer jarang sekali terjadi, dibandingkan dengan yang memang sudah memiliki penyebab sebelumnya.

Pernah merasakan berolahraga pakai masker? Bagikan pengalaman Anda di komentar.



Simak Video "Tren 'Coronacuts', Potong Rambut Sendiri Selama Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)