Plus Minus Road Bike Masuk Tol di Mata Para Pesepeda

ADVERTISEMENT

Plus Minus Road Bike Masuk Tol di Mata Para Pesepeda

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Kamis, 27 Agu 2020 14:35 WIB
Cyclist increase speed by sprint.
Komentar para pesepeda terkait wacana Anies soal pesepeda masuk tol. (Foto: Getty Images/iStockphoto/torwai)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengusulkan agar Inner Ring Road atau Tol Dalam Kota dapat dilintasi oleh sepeda jenis road bike. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo usai rapat pimpinan di Balai Kota.

"Kami dari pak Gubernur mengusulkan kepada pak Menteri PUPR untuk disiapkan satu ruas tol, tepatnya mulai di Kebon Nanas sampai dengan ke arah Tanjung Priok satu sisi," kata Syafrin di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Mengingat sepeda jenis road bike yang spesifikasinya memang berbeda dari sepeda pada umumnya, lintasan khusus yang mulus dan bebas hambatan memang lebih nyaman. Namun para pesepeda punya catatan soal rencana tersebut.

Menurut Kepala Bidang Umum Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) DKI Fatur Racavvara, pesepeda road bike memang lebih membutuhkan jalan yang mulus karena sepeda ini bisa melaju dengan sangat kencang, bahkan dengan tingkat kebugaran tertentu bisa menyamai kendaraan bermotor. Dengan pertimbangan ini, tol adalah pilihan yang baik bagi para pesepeda road bike karena minim hambatan.

"Pertama karena road bike itu kan memang harus kencang, jalannya kencang, jadi dia kalau di jalur biasa cenderung tingkat risikonya lebih tinggi, kalau di tol itu memang tidak ada hambatan kan," ungkap Fatur saat dihubungi detikcom Kamis (27/8/2020).

"Jadi memang sepeda road bike itu buat di sana, lebih safety buat mereka sebenarnya," lanjutnya.

infografis sepeda balap alias road bikeinfografis sepeda balap alias road bike Foto: infografis detikHealth

Senada dengan Fatur, Wakil Ketua Paguyuban Pesepeda Bogor Raya (PPBR), Suyono Abet menjelaskan idealnya memang jenis sepeda yang memenuhi kriteria kecepatan di jalan tol adalah sepeda road bike. Namun, menurutnya jika pesepeda lain bisa ikut masuk tentu akan lebih baik.

"Jadi gini, kalau jalan tol kan itu ada batas kecepatan minimal. Ini menurut saya ya, jenis sepeda yang bisa memenuhi kriteria kecepatan itu adalah sepeda road bike. Hanya sepeda itu yang kecepatannya bisa maksimal pantas untuk di jalan tol," ungkap Suyono saat dihubungi terpisah.

"Namun, kalau memang sepeda lain itu boleh masuk juga, itu lebih baik karena sepeda itu kan back to nature. Kita mendukung go green, kita mendukung efisiensi bahan bakar. Kedua, dengan banyaknya orang pakai sepeda tentunya membuat lingkungan jadi lebih bersih tanpa polusi," lanjutnya.

Fatur menambahkan, perlu adanya kaji ulang terkait wacana tersebut. Khususnya, terkait waktu yang diusulkan yakni Minggu pagi.

"Kebijakan usulan dari DKi untuk ke PUPR itu perlu dikaji ulang, seperti datanya mengapa minggu pagi jam 6 hingga jam 9 pagi," bebernya.

"Apakah memang sudah dianalisa bahwa tol itu ketika jam 6 hingga 9 pagi itu kosong, nah kalau itunya menang kosong dan aman, itu sih saya pikir boleh-boleh saja, tetapi kalau analisanya berbahaya sih saya pikir itu perlu dikaji kembali ya," pungkasnya.



Simak Video "Pemprov DKI Ubah Nama Rumah Sakit Jadi 'Rumah Sehat untuk Jakarta'"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT