Sabtu, 22 Mei 2021 06:30 WIB

Dear Weekend Warrior, Ini Bahaya 'Nge-push' Olahraga Cuma di Akhir Pekan

Ardela Nabila - detikHealth
Fit woman using gymnastic rings as part of a cross training workout at the gym. Muscular young female athlete exercising with rings. Weekend warrior (Foto: iStock)
Jakarta -

Dibanding tidak olahraga sama sekali, olahraga cuma di akhir pekan memang lebih 'mendingan'. Tapi tetap tidak boleh sembarangan, terlalu 'nge-push' bisa berakibat fatal bagi jantung.

Ini biasanya dilakukan oleh para weekend warrior, yakni orang-orang yang hanya punya waktu di akhir pekan untuk olahraga. Menyadari bahwa sepanjang pekan tidak punya waktu untuk olahraga, lalu 'nge-push' alias memaksakan diri olahraga berat untuk menebus utang olahraga.

Apakah benar-benar lebih menyehatkan dibanding tidak olahraga sama sekali? Tunggu dulu.

Menurut dr BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP (K) dari Heartology Cardiovascular Center, seorang weekend warrior sering kali memaksakan tubuhnya untuk berolahraga. Hal ini sangat tidak disarankan.

Menurut dr Ario, olahraga yang bertujuan untuk menjaga kesehatan sebenarnya harus berdasarkan dua aspek penting, yakni durasi olahraga dan frekuensi olahraga yang harus diterapkan dengan rutin.

"Olahraga kalau tujuannya untuk kesehatan, sebetulnya yang penting ada dua, frekuensi dan durasi yang tercapai. Banyak yang melakukan olahraga yang sifatnya weekend warrior, jadi cuman weekend aja dan itu dimaksimalkan atau bahkan diforsir. Itu malah membahayakan," kata dr Ario dalam Zoom Media Briefing, baru-baru ini.

dr Ario menyebutkan, konsep weekend warrior merupakan konsep berbahaya dan berisiko. Jantung yang tidak terlatih untuk berolahraga dan diforsir untuk menahan beban yang berat selama berolahraga justru berpotensi memicu terjadinya berbagai penyakit kardiovaskular.

"Malah banyak mereka yang mengalami serangan jantung saat olahraga karena menggunakan konsep weekend warrior. Itu justru bahaya karena jantung kita tidak terlatih dan kemudian dipaksa untuk mendapat beban yang sangat berat," tuturnya.

"Berisiko serangan jantung, stroke, gangguan irama," tambahnya.



Simak Video "Kenapa Atlet Bisa Kena Serangan Jantung?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)