Minggu, 30 Mei 2021 14:57 WIB

Terpopuler: Makna 'Heart Rate 180' di Balik Meninggalnya Pesepeda Road Bike

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Athlete on racing bike outdoors at sunset, close-up Ilustrasi pesepeda (Foto: Getty Images/iStockphoto/ArtistGNDphotography)
Jakarta -

Uji coba JLNT (Jalan Layan Non Tol) Kampung Melayu - Tanah Abang untuk road bike pekan lalu memakan korban. Seorang pesepeda 62 tahun kolaps dan meninggal dunia, Minggu (23/5/2021).

Dugaan mengalami serangan jantung mencuat terkait adanya riwayat operasi jantung sebelumnya. Selain itu, data Garmin menunjukkan denyut jantung yang relatif tinggi, mengindikasikan intensitas gowes yang melelahkan.

Beberapa fakta seputar risiko meninggal saat bersepeda maupun olahraga pada umumnya terangkum sebagai berikut.

1. Diduga serangan jantung

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta Rudy Saptari ketika itu menyinggung dugaan bahwa pesepeda tersebut kelelahan. Ini ditunjukkan oleh rekaman denyut jantung atau hart rate di perangkat yang digunakan.

"Dari dokter diduga kecapaian karena dilihat dari Garmin-nya itu yang di pencetan sepeda itu detak jantung almarhum tinggi, 180. Kalau kita orang normal 75 kan, 100 aja udah deg-degan beliau 180 mungkin kecapekan kemudian ada riwayat jantung," jelas Rudy, Minggu (23/5/2021).

Adanya riwayat pemasangan ring jantung memperkuat dugaan serangan jantung.

2. Denyut jantung 180

Denyut jantung merupakan indikator penting yang menunjukkan intensitas berolahraga. Olahraga untuk kebugaran umumnya dilakukan pada training zone yakni 50-70 persen dari denyut maksimal. Denyut maksimal atau Heart Rate (HR) maximum dihitung dengan rumus 220 dikurangi usia (dalam tahun).

"Heart rate maksimal itu adalah 220 dikurangi usia. Kalau orang ini usianya 60 tahun, berarti 220 dikurangi 60. Maka 160 itu 100 persennya dia," terang dr Michael saat diwawancara detikcom, Minggu (23/5/2021).

"Kalau untuk tujuan kesehatan, maksimalnya berapa denyutnya? 220 Dikurangi usia. Nah, training zone-nya untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih baik itu 50-70 persen saja," jelas dr Michael.

Dokter jantung menyebut kolaps saat olahraga tidak selalu karena heart rate tinggi. Selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2