Selasa, 25 Mei 2021 05:27 WIB

Pesepeda Meninggal di JLNT Kampung Melayu, Ini Cara Tahu Heart Rate Maksimal

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang diuji coba sebagai lintasan road bike mulai hari ini. Sejumlah pesepeda pun ramai-ramai datang untuk bersepeda di jalur tersebut Foto: Agung Pambudhy
Topik Hangat HR Max Saat Olahraga
Jakarta -

Seorang pesepeda meninggal di tengah uji coba JLNT (Jalan Layan Non Tol) Kampung Melayu - Tanah Abang (Casablanca) untuk road bike. Data Garmin menunjukkan detak jantung pria berusia 62 tahun itu sempat mencapai 180.

"Dari dokter diduga kecapaian karena dilihat dari Garmin-nya itu yang di pencetan sepeda itu detak jantung almarhum tinggi, 180. Kalau kita orang normal 75 kan, 100 aja udah deg-degan beliau 180 mungkin kecapekan kemudian ada riwayat jantung," jelas Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta Rudy Saptari, Minggu (23/5/2021).

Mengetahui batas detak jantung normal atau heart rate maksimal saat olahraga sangat penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apabila detak jantung melebihi batas maksimal, seseorang bisa kolaps.

Spesialis Kedokteran Olahraga dari Rumah Sakit Mitra Kelarga, dr Michael Triangto, SpKO mengatakan cara menghitung detak jantung maksimum adalah dengan menggunakan rumus 220 dikurangi usia dalam tahun. Denyut jantung maksimal atau heart rate max adalah 220 minus umur.

Side view of a charming body positive women monitoring loss of calories on her sport watch while doing weight loss exercises in the morning in a sport park.Berbagai perangkat bisa membantu memonitor heart rate dengan lebih mudah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Strelciuc Dumitru



"Katakanlah umur kamu 20 tahun, jadi 220-20 jadi angkanya dapat di 200 bpm. angka 200 itu denyut jantung maksimal, jadi kalau berlatih 210-220 denyut jantungnya, berarti itu sudah melampaui batas kemampuan 100 persennya," kata dr Michael.

Jika olahraga yang dilakukan tujuannya untuk kesehatan bukan prestasi seperti atlet, maka batas denyut jantung yang disarankan hanya 50-100 persen dari maksimal heart rate. Namun itu juga masih harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan dari masing-masing individu.

"Jadi untuk yang misalnya berusia 20 tahun, kalau olahraganya ingin cari sehat, cuma boleh berlatih antara 100 bpm-140 bpm. Lebih dari itu maka berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," sebutnya.

The American Heart Association memberikan panduan umun batas detak jantung normal saat berolahraga, yakni:

  • Intensitas latihan sedang: 50-70 persen dari detak jantung maksimum
  • Intensitas olahraga berat: 70-85 persen dari detak jantung maksimum

Berikut batas detak jantung normal dan maksimal saat olahraga berdasarkan usia menurut The American Heart Association

  • 20 tahun: normal 100-170 bpm, maksimal 200 bpm
  • 30 tahun: normal 95-162 bpm, maksimal 190 bpm
  • 35 tahun: normal 93-157 bpm, maksimal 185 bpm
  • 40 tahun: normal 90-153 bpm, maksimal 180 bpm
  • 45 tahun: normal 88-149 bpm, maksimal 175 bpm
  • 50 tahun: normal 85-145 bpm, maksimal 170 bpm
  • 60 tahun: normal 80-136 bpm, maksimal 160 bpm

Perlu dicatat bahwa di atas hanya pedoman umum dan dapat berbeda tiap orang. Detak jantung normal bisa saja 15-20 bpm lebih tinggi atau rendah daripada pedoman umum.

Meski demikian kita tetap harus mengetahui batas maksimum detak jantung saat berolahraga. Ketika detak jantung melebihi batas normal dalam waktu lama, kondisi tersebut bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Risiko tersebut akan meningkat pada seseorang yang baru atau jarang berolahraga.



Simak Video "Pertumbuhan Pesepeda di Masa Pandemi Bikin Komunitas Sepeda Gembira"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
Topik Hangat HR Max Saat Olahraga