Selasa, 15 Jun 2021 05:15 WIB

Mengenal Hipertensi, 'Silent Killer' yang Diidap Mendiang Markis Kido

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Markis Kido of Indonesia reacts to a winning point with his partner Hendra Setiawan (not pictured) against Koo Kien Keat and Tan Boon Heong of Malaysia during their mens doubles badminton final match against at the 16th Asian Games in Guangzhou on November 20, 2010. Indoneisa won 16-21, 26-24, 21-19 to take the gold. AFP PHOTO / LIU JIN (Photo by LIU JIN / AFP) Legenda bulutangkis Indonesia, Markis Kido, meninggal saat bermain bulutangkis (Foto: AFP/LIU JIN)
Jakarta -

Peraih emas Olimpiade 2008 Markis Kido meninggal, diduga karena serangan jantung. Pebulutangkis 36 tahun tersebut juga diketahui mengidap hipertensi.

Dugaan terkait masalah jantung antara lain disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto yang menyebut Markis jatuh saat bermain bulutangkis.

"Benar, dari info yang saya dapat demikian, jatuh saat main bulu tangkis, kemungkinan jantung," ungkapnya via telepon dengan detikSport.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan kondisi tekanan darah di atas normal, yakni di atas 140 mmHg untuk tekanan sistolik dan di atas 90 mmHg untuk tekanan diastolik.

Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang memberi tekanan pada dinding pembuluh darah yang akhirnya bisa memicu berbagai masalah pada sistem peredaran darah. Stroke dan serangan jantung bisa dipicu oleh penebalan dan pengerasan arteri akibat hipertensi.

Meski bisa berakibat fatal, hipertensi seringkali tidak bergejala. Keluhan seperti sakit kepala, sesak napas, hingga mimisan, biasanya muncul ketika tekanan darah sudah masuk level membahayakan.

Kabar baiknya, hipertensi bisa dikelola atau dikontrol dengan pengobatan yang teratur. Sayangnya, Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebut sekitar 30 persen pengidap hipertensi tidak minum obat.

"Hal ini membuat hipertensi menjadi pembunuh senyap atau silent killer," kata dr Vito A Damay, SpJP(K), dokter jantung dari Siloam Hospital Karawaci, kepada detikcom, Selasa (15/6/2021).

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang hipertensi:

1. Tekanan darah normal

Dalam pedomannya, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyebut tekanan darah normal ada di kisaran 120-129/80-84 mmHg. Tekanan darah tinggi yang mulai dikateforikan hipertensi derajat 1 adalah 140-159-90-99 mmHg.

2. Gejala hipertensi

Sebagian besar hipertensi tidak bergejala, bahkan ketika tekanan darah sudah sangat tinggi. Beberapa keluhan yang tidak spesifik sehingga sering diabaikan adalah:

  • Sakit kepala
  • Sesak napas
  • Mimisan

Gejala tersebut tidak spesifik, tidak selalu karena hipertensi. Kalaupun disebabkan oleh hipertensi, umumnya muncul ketika tekanan darah sudah ada di level membahayakan nyawa.

3. Faktor risiko

Ada banyak faktor risiko hipertensi. Di antaranya:

  • Usia. Hingga usia 64 tahun, hipertensi lebih umum ditemukan pada pria. Wanita juga rentan mengalaminya di atas usia 65 tahun.
  • Ras. Keturunan Afrika punya kerentanan lebih tinggi.
  • Riwayat keluarga. Seseorang lebih rentan jika di keluarganya ada yang memiliki kondisi serupa.
  • Overweight atau kegemukan. Makin tinggi berat badan, makin besar risiko tekanan darah tinggi.
  • Aktivitas fisik. Jarang bergerak meningkatkan risiko hipertensi.
  • Rokok. Bukan hanya rokok, semua produk tembakau meningkatkan risiko hipertensi.
  • Garam. Sifat garam menahan air, sehingga meningkatkan risiko hipertensi.
  • Kurang kalium. Kalium atau potasium membantu menyeimbangkan kadar natrium atau sodium.
  • Stres. Pengaruhnya bisa langsung, atau memicu pola hidup tidak sehat seperti makan junk food sebagai comfort eating.

Simak video 'Pebulu Tangkis Indonesia Markis Kido Meninggal Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(up/up)