ADVERTISEMENT

Minggu, 09 Jan 2022 07:35 WIB

Pantesan Djokovic Ngeles Melulu Soal Vaksin, Ternyata Habis Kena COVID-19

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Novak Djokovic, of Serbia, checks a linesman after hitting her with a ball in reaction to losing a point to Pablo Carreno Busta, of Spain, during the fourth round of the US Open tennis championships, Sunday, Sept. 6, 2020, in New York. Djokovic defaulted the match. (AP Photo/Seth Wenig) Novak Djokovic bikin gaduh soal status vaksinasi COVID-19 (Foto: AP/Seth Wenig)
Jakarta -

Bintang tenis Serbia, Novak Djokovic, bikin gaduh soal pengecualian medis terkait vaksinasi COVID-19. Dalam banding yang diajukannya setelah 'ditolak' Australia, ternyata ia mengaku pernah kena COVID-19 baru-baru ini.

"Saya menjelaskan bahwa saya baru-baru ini terinfeksi COVID-19 di Desember 2021 dan atas dasar itu saya bisa mendapat pengecualian medis sesuai aturan dan pedoman pemerintah Australia," kata Djokovic dalam bandingnya, dikutip dari Reuters, Minggu (9/1/2022).

Disebutkan, Djokovic mendapatkan hasil positif COVID-19 dalam pemeriksaan pada 16 Desember 2021. Namun pada 30 Desember, dirinya sudah tidak demam maupun mengalami masalah pernapasan terkait COVID-19 dalam 72 jam.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Djokovic terinfeksi COVID-19. Pada Juni 2021, ia juga dinyatakan positif di tengah rencananya menggelar sebuah turnamen kontroversial.

Terkait vaksinasi COVID-19, ia tidak pernah mengungkap statusnya selama ini. Namun yang pasti, dalam beberapa kesempatan ia sempat menunjukkan sikap menentang vaksinasi.

Pengecualian medis

Pemerintah Australia melalui Australian Technical Advisory Group on Immunisation (ATAGI) selama ini memang memberikan pengecualian medis atau medical exemption terkait vaksinasi COVID-19. Pengecualian bisa diberikan antara lain pada kondisi sebagai berikut:

  • Kondisi medis utama yang akut seperti menjalani operasi besar
  • Efek samping serius yang dikaitkan dengan dosis vaksin COVID-19 sebelumnya
  • Bukti infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi PCR dalam enam bulan sebelumnya
  • Jika orang tersebut berisiko bagi diri mereka sendiri atau orang lain selama proses vaksinasi karena gangguan perkembangan atau kesehatan mental

Riwayat infeksi COVID-19 menurut ATAGI tidak termasuk alasan yang sah untuk menolak vaksinasi. Rekomendasi ATAGI menyebut vaksinasi bisa dimulai setelah sembuh dari penyakit parah, dan hanya dalam keadaan luar biasa dapat diberikan jika seseorang terjangkit COVID-19 dalam 6 bulan terakhir.

Simak juga 'Presenter James Corden Umumkan Dirinya Positif Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(up/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Eureka!
×
Selamat Tinggal BBM
Selamat Tinggal BBM Selengkapnya