Kamis, 23 Jun 2022 14:30 WIB

Kelamaan Gowes Bisa Disfungsi Ereksi? Ada Benarnya, Ini Alasannya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Sejumlah masyarakat beraktifitas bersepeda di kawasan Sudirman, Jakarta, Sabtu (16/10/2021). Polda Metro Jaya telah mengizinkan aktivitas olahraga bersepeda (bike to sport) melintasi jalan umum di Jakarta mulai Sabtu (16/10) dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Ilustrasi olahraga sepeda (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Olahraga sepeda sudah menjadi tren di kota dan desa belakangan ini. Namun, tren olahraga sepeda memunculkan isu kesehatan yang meresahkan sebagian kalangan, terutama kaum pria.

Adapun isu terlalu sering olahraga sepeda atau gowes dapat memicu disfungsi ereksi. Bagaimana faktanya?

Konsultan andrologi-urologi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr Widi Atmoko SpU(K), menyebut secara penelitian isu tersebut masih kontroversial. Namun, apabila seseorang terlalu lama bersepeda, misalnya lebih dari 3 sampai 4 jam kemungkinan bisa meningkatkan faktor risiko terjadinya gangguan ereksi.

Hal tersebut terjadi akibat tertekannya pembuluh darah dan saraf di daerah skrotum yang mengalir ke penis, sehingga sejumlah faktor seperti posisi, ketinggian, dan juga tipe sadel sepeda perlu diatur sedemikian mungkin untuk menyesuaikan postur tubuh.

"Kalau gowes secara penelitian masih kontroversial, tapi yang kesimpulan mungkin secara general bisa kita katakan pada yang suka hobi goes, satu durasi lama saat gowes. Semakin lama durasi,misalnya lebih dari 3 jam - 4 jam itu meningkatkan faktor risiko terjadinya gangguan ereksi. Kenapa nanti di daerah bawah skrotum itu banyak sekali pembuluh darah dan juga saraf yang mengalir ke daerah penis," ucapnya saat webinar virtual, Rabu (23/6/2022).

dr Widi juga mengungkapkan apabila seseorang terlalu memaksakan naik sepeda yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya, bisa saja terkena masalah kesehatan lain selain disfungsi ereksi, seperti gangguan tulang punggung.

"Kedua nanti juga kaitannya faktor-faktor misalnya posisi sadelnya bagaimana, ketinggian sadelnya bagaimana, tipe sadelnya bagaimana. Jadi, ujung-ujungnya nanti diperlukan juga namanya bike fitting ya," kata dr Widi.

"Supaya nanti antara badan dan sepeda itu ngeklop, jadi memang menyesuaikan postur badan masing-masing. Karena sepeda itu kalau kita maksain sepeda yang ukurannya bukan buat kita itu bisa nggak cuma masalah ereksi, tapi segala macam. Nanti masalah tulang punggung itu juga bisa jadi faktor risiko," lanjutnya.



Simak Video "KuTips: Tips Bersepeda di Jalan Raya yang Perlu Kamu Tahu! "
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)