Belakangan, Luu merasa kebugaran dan fisiknya menurun. Ia ingin mencoba program latihan yang intens agar bisa berotot.
"Selama saya berhasil melakukan total 100 kali push-up dan 50 pull-up dengan gerakan benar sebelum tidur, itu sudah merupakan hari yang sukses," beber Luu yang dikutip dari Unilad.
Di awal, Luu hanya sanggup melakukan 8 kali pull-up dan 28 kali push-up dalam satu sesi. Strategi awalnya adalah membagi latihan menjadi lima sesi dalam waktu 3-4 jam.
Namun, rencana tidak selalu berjalan mulus. Tubuhnya ternyata belum siap menghadapi tekanan fisik sebesar itu.
"Setelah hanya dua hari, pada hari ketiga saya terpaksa beristirahat karena tubuh saya tidak mampu menanganinya," katanya.
Tubuhnya Mulai Terbiasa
Setelah merasa tubuhnya mulai terbiasa, Luu kembali memulai tantangan 30 hari penuh tanpa libur. Memasuki hari ke-12, tubuhnya terasa sakit saat menggenggam palang pull-up.
"Saya akhirnya mengalami perdarahan internal di tangan kanan saya, di bawah kapalan, mungkin karena saya menggenggam palang terlalu erat," tambahnya.
Selain itu, Luu juga merasakan nyeri di lengan bawah, dada, hingga punggung. Meski begitu, tubuhnya mulai beradaptasi dan rasa nyeri serta pegal perlahan berkurang.
Di hari ke-30, ternyata Luu tidak melihat perubahan yang signifikan pada tubuhnya. Ternyata hal itu membuat mentalnya, sebab latihan yang keras telah menyeimbangkan kekuatan pikiran dengan kemampuan fisiknya.
Simak Video "Video: Kenali Gejala Korban Penyalahgunaan Gas N2O"
(sao/naf)