Disangka Mirip 'Dokter SpKFR' oleh Netizen, Asosiasi Fisioterapi Angkat Bicara

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Rabu, 11 Feb 2026 07:40 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/SARINYAPINNGAM
Jakarta -

Media sosial threads 'memanas' usai unggahan seorang dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (SpKFR) menceritakan kebingungan pasien saat masuk ke unit rehabilitasi medis.

Dalam unggahan di 'Poliklinik RS Threads' tersebut diceritakan bahwa pasien masih bingung membedakan mana dokter SpKFR dan fisioterapis. Dari sinilah muncul polemik terkait perbedaan ruang lingkup pekerjaan kedua profesi tersebut.

Bukan cuma ramai di kalangan profesional, kegaduhan di media sosial ini juga mendapat atensi para netizen. Tak sedikit yang baru tahu adanya persinggunan antara dua profesi dokter SpKFR dan fisioterapis dan menganggap keduanya sama saja.

Sebenarnya apa bedanya dan kenapa ada yang menganggap keduanya mirip?

Mengapa Pasien 'Salah Panggil'?

Sekretaris Jenderal Asosiasi Fisioterapis Indonesia (IFI) Muhammad Irfan, Sst.Ft SKM MFis mengatakan ada beberapa alasan mengapa masih banyak pasien yang keliru dalam membedakan seorang dokter SpKFR dan fisioterapis, mulai dari aspek kesejarahan, jumlah tenaga kesehatan, dan intensitas interaksi.

1. Aspek Kesejarahan

Pendidikan fisioterapi lebih dulu lahir, yakni pada tahun 1956 daripada pendidikan dokter SpKFR yang dimulai pada 1987.

Unit Rehabilitasi Medik (URM) pertama di Indonesia dimulai sejak tahun 1973 yaitu di RS Kariadi Semarang. Kemudian Menteri Kesehatan menerbitkan SK Menkes No.134/Men Kes/SK/IV/78," kata Irfan dalam keterangannya yang diterima detikcom, Selasa (10/2/2026).

"Menetapkan Unit pelaksana fungsionil Rehabilitasi Medis dikukuhkan menjadi disiplin yang organisatoris dan adminstratif setingkat dengan disiplin-disiplin lain didalam Rumah Sakit. Dalam Tim Unit Rehabilitasi Medis yang saat itu terdiri dari Fisioterapi dan Okupasi Terapi," sambungnya.

2. Jumlah Tenaga Kesehatan

Di Indonesia saat ini sudah lebih dari 25.000 fisioterapis yang tersebar di seluruh kota, bahkan 'menyentuh' desa-desa. Masyarakat bisa menemukan mereka dari klinik, Puskesmas, hingga rumah sakit.

"Sementara Dokter SpKFR diperkirakan tidak lebih dari 1.300 dan umumnya hanya ada di Rumah Sakit Provinsi," kata Irfan.



Simak Video "Video: Bukan Cuma Plantar Fasciitis, Shin Splint Juga Bahaya Bagi Pelari Pemula"


(kna/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork