Bagi atlet profesional sekaliber Viktor Axelsen, cedera punggung dan saraf kejepit yang memaksanya pensiun di usia 32 tahun mungkin sudah jadi risiko dari training load yang ekstrem di level tersebut. Bagaimana dengan para 'weekend warrior' yang olahraganya cuma di akhir pekan?
Hati-hati, risiko saraf kejepit dan cedera punggung justru lebih tinggi pada kelompok ini meski olahraga beratnya cuma sesekali. Apalagi, olahraga yang cuma sesekali itu umumnya adalah olahraga berat buat menebus kurang gerak sepanjang pekan.
"Orang yang nggak pernah olahraga, terus sekalinya olahraga, itu lebih rentan terkena masalah di tulang belakangnya," kata dr Faisal M, SpBS, dokter bedah saraf dari RS Lamina Jakarta Selatan, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (16/4/20206).
Menurut dr Faisal, olahraga rutin lebih dianjurkan dibanding cuma di akhir pekan karena otot-ototnya makin terlatih. Jika otot-otot makin kuat dan terlatih, maka beban tulang belakang akan lebih ringan sehingga tidak mudah cedera.
Lalu kenapa atlet profesional selevel Viktor Axelsen, yang pastinya berlatih sepanjang waktu, akhirnya pensiun karena masalah tulang belakang? Bukankah ototnya sudah sangat terlatih?
Pastinya, olahraga di level super kompetitif punya tujuan yang berbeda dibanding olahraga rekreasional atau non kompetitif. Karena yang dikejar adalah prestasi, atlet profesional tentunya punya training load yang lebih tinggi. Cedera-cedera kecil yang mungkin terjadi sepanjang latihan, lama kelamaan dapat menyebabkan aus pada bantalan tulang belakang.
"Jadi kalau ada benturan-benturan kecil tapi berulang, nah itu bisa berisiko," jelas dr Faisal.
Karenanya, dr Faisal mengingatkan pentingnya mengenali kapasitas tubuh saat olahraga. Jika tubuh dipaksa untuk menanggung beban latihan lebih berat dari batas kemampuannya, maka risiko cedera harus diantisipasi.
Simak Video "Video: Demam Hyrox Melanda, tapi Jangan Remehkan Risiko Saraf Kejepit"
(up/up)