Bagi para runners atau pelari, race day merupakan hari akbar yang ditunggu-tunggu. Sepatu karbon terbaik sudah diikat kencang, jersey kebanggaan sudah terpasang rapi dengan bib yang tersemat di dada.
Target di kepala cuma satu, yakni bisa memecahkan Personal Best (PB) alias rekor waktu pribadi.
Tapi, bagi sebagian orang, hal di atas justru menjelma menjadi tekanan. Sulit di tidur di malam harinya, bahkan jadi nervous atau gugup setelah menginjakkan kaki di arena.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, muncul kondisi-kondisi yang tidak diharapkan. Seperti perut tiba-tiba mules dan 'panggilan alam' yang tak tertahankan untuk segera ke toilet.
Spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan memang ada hubungannya antara nervous atau gugup dengan kondisi mules, yang bahkan muncul sebelum flag off dan ini dinamakan anxiety pre-race.
"Anxiety pre-race mengaktifkan sistem saraf simpatis bahkan sebelum start gun. Gut-brain axis, adalah konsep yang sudah well-established," kata dr Andi saat dihubungi detikcom, Kamis (28/5/2026).
"Saluran cerna kita punya sistem saraf sendiri (enteric nervous system) yang sangat dipengaruhi status emosional. Itu sebabnya banyak pelari harus bolak-balik toilet 2-3 kali sebelum start, padahal sudah BAB di hotel," sambungnya.
Kondisi ini juga bisa diperparah oleh mereka yang tidak cukup tidur di malam sebelum race day.
"Kurang tidur mengganggu regulasi otonom, meningkatkan baseline kortisol, dan menurunkan toleransi gut terhadap stres fisik," katanya.
"Pelari yang taper-nya bagus tapi tidur kurang the night before sering terkena. Implikasinya, persiapan mental dan tidur sama pentingnya dengan persiapan fisik," tutupnya.
Simak Video "Video: Amankan Slotmu! Jogja Run D City Bakal Digelar Minggu Depan"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)











































