Real Madrid bertandang ke markas Real Betis di Estadio La Cartuja dalam lanjutan LaLiga, Sabtu (5/9/2026) dini hari WIB. Los Blancos tumbang 0-1 akibat gol Troy Parrott.
Bagi Mbappe, mengambil penalti tentu bukan sesuatu yang asing. Sebagai pemain elite, ia sudah berulang kali berada di titik putih dan menjalani situasi pertandingan dengan tekanan tinggi.
Lantas, mengapa pemain yang sudah sangat terlatih tetap bisa gagal ketika berada dalam situasi yang sangat menentukan?
Mengenal Chocking Under Pressure
Salah satu penjelasannya dapat ditemukan dalam psikologi olahraga, yakni fenomena yang dikenal sebagai "choking under pressure". Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang justru mengalami penurunan performa saat berada di bawah tekanan, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan tugas tersebut.
Namun, kegagalan Mbappe dalam penalti tersebut tentu tidak bisa langsung disebut sebagai choking. Hal ini karena tidak ada data mengenai kondisi psikologis Mbappe ketika mengambil tendangan tersebut.
Fenomena ini lebih tepat digunakan untuk menjelaskan bagaimana tekanan secara umum dapat memengaruhi performa seorang atlet.
Dalam jurnal berjudul "Attentional processes and choking under pressure" yang terbit tahun 2013 disebutkan bahwa tekanan dapat menurunkan kinerja otak seperti fokus perhatian, sehingga berdampak pada eksekusi gerakan yang dilakukan.
Penelitian ini melibatkan 22 anggota tim basket nasional yang diberikan kesempatan melempar bola dengan diberikan tekanan rendah dan tinggi. Hasilnya, pemain yang mengalami 'chocker' atau yang kinerjanya menurun di bawah tekanan, menunjukkan perbedaan dalam hal fokus terhadap eksekusi.
Simak Video "Video: Spit Vs Rinse, Dilema Kumur-kumur Usai Gosok Gigi"
(dpy/up)