detikhealth

Wanita Indonesia 'Aktif' Bergerak Tapi Kurang Nutrisi

Firdaus Anwar - detikHealth
Rabu, 08/03/2017 15:03 WIB
Wanita Indonesia Aktif Bergerak Tapi Kurang NutrisiFoto: thinkstock
Jakarta, Wanita Indonesia modern bisa dibilang memiliki tanggung jawab yang besar. Ia harus bisa mengurus keluarga sekaligus juga berkarier sehingga sering waktunya habis terbagi-bagi tidak sempat mengurus diri sendiri.

Apa dampak dari hal tersebut? Satu studi terbaru yang dilakukan oleh Fonterra Brands Indonesia dan Perhimpunan Osteoporsis Indonesia (PEROSI) menemukan bahwa hanya sedikit wanita yang menerapkan pola makan sehat dan olahraga secara rutin.

Wanita memang 'aktif' karena sibuk bekerja melakukan aktivitasnya, namun belum cukup dianggap sebagai olahraga yang baik. Dari 500 wanita yang disurvei, sekitar 80 persen mengaku jarang olahraga dalam arti kurang dari 30 menit sehari.

Selain itu sembilan dari 10 wanita juga mengaku tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Fakta tersebut menjelaskan mengapa wanita dalam jangka panjangnya rentan alami masalah tulang, sendi, dan otot. Beberapa contoh umumnya seperti osteoarthritis, rematik, osteoporosis, nyeri pinggang, nyeri bahu, serta nyeri leher.

"Kalau kita bicara aktivitas fisik sebenarnya segala yang menghabiskan energi dan melibatkan kontraksi otot. Tapi yang direkomendasikan itu ada latihan aerobik meningkatkan denyut jantung dan pernapasan, meningkatkan kekuatan otot serta tulang pakai latihan beban, terus latihan fleksibilitas juga," kata Sekretaris Jenderal PEROSI dr Andi Kurniawan, SpKO, pada pemaparan Survey Kesehatan Wanita Indonesia 2017 di Hotel Intercontinental Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (8/3/2017).

Baca juga: Catat! Ini Dua Syarat Utama Sarapan Sehat

"Studi ini jadi peringatan untuk seluruh wanita Indonesia bahwa mereka harus mulai mempriotitaskan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri," ungkap dr Andi.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) penyakit tulang, sendi, dan otot adalah penyebab disabilitas terbesar ke dua di seluruh dunia. Penderitanya sering kali alami keterbatasan beraktivitas dan jumlahnya setiap tahun terus meningkat.

Baca juga: Sering Kalap Makan Sehabis Olahraga, Mungkin Ini Penyebabnya (fds/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit