"Kebersihan dan layanan tenaga kesehatan harus menjadi bagian dari penilaian akreditasi. Jangan sampai rumah sakit memperbaiki keduanya karena mau dinilai, setelah dapet akreditasi balik lagi," kata Nila pada Senin (25/2/2019).
Saran tersebut diperoleh Nila berdasarkan pengalamannya sendiri. Sebagai layanan kebersihan, rumah sakit seharusnya identik dengan upaya menjaga kebersihan. Namun praktiknya sampah tetap mudah ditemukan di pojok ruang tunggu, halaman, atau lokasi lain yang menjadi tempat berkumpulnya pasien.
Untuk layanan kesehatan, Nila teringat pengalamannya saat memeriksakan kandungan. Saat itu, pasien hamil dipanggil ke dalam ruang tunggu dan duduk berdasarkan urutan pemanggilan. Selanjutnya dokter memanggil dan menuliskan resep untuk tiap pasien, tanpa ada sesi konsultasi terlebih dulu.
"Waktu itu saya bingung banget. Mau nanya suami malah didiemin mungkin karena nggak ngerti ya. Yang kaya gini jangan sampai masih ada ya, harus mencoba komunikatif dengan pasien" kata Nila.
Senada dengan Nila, Ketua Eksekutif Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Sutoto juga mengingatkan rumah sakit terus meningkatkan kualitasnya. Dua poin tersebut sebetulnya sudah ada dalam elemen dan standar penilaian akreditasi rumah sakit.
"Rumah sakit harus terus meningkatkan kualitas pelayanannya. Kualitas inilah yang menentukan akreditasi dan kepercayaan masyarakat. Akreditasi mengindikasikan jaminan mutu dan keselamatan pada dokter serta pasien," kata Sutoto.
(up/up)