Senin, 12 Apr 2021 21:36 WIB

Cerita Pilu Seorang Ibu, Bayinya Meninggal di Pelukan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Silhouette of pregnant woman Foto: iStock
Jakarta -

Seorang ibu trauma usai anaknya tak mendapat pertolongan apapun dari bidan saat lahir. Bidan yang menangani, menjelaskan bayi yang baru lahir di usia kehamilan 21 minggu diyakini tak akan selamat.

Sang ibu, Bethany Lamming, sangat yakin anaknya bisa bertahan hidup jika diberikan kesempatan untuk langsung ditangani karena anak dalam kondisi masih bernapas kala lahir. Namun, ia hanya bisa menangis lantaran tak ada satu pun petugas kesehatan yang kemudian melakukan tindakan pada si bayi.

"Begitu dia lahir, hal pertama yang dikatakan bidan kepada saya adalah 'ingat saja karena dia sebelum 24 minggu, kita tidak bisa berbuat apa-apa'," cerita Bethany, dikutip dari Daily Star, Senin (12/4/2021)

"Tapi dia (bayi) menangis dan bernapas. Matanya memang belum terbuka, tapi selain itu dia adalah bayi normal dengan lima jari di masing-masing tangan, sepuluh jari kaki, dia sempurna."

Ia merasa bayinya diperlakukan tidak adil. Hingga akhirnya sang bayi menghembuskan napas terakhirnya dan meninggal di pelukan Bethany.

"Saya hanya tidak mengerti bagaimana mereka tidak bisa membantunya, setiap kali saya memandangnya saya tidak mengerti, rasanya dia tidak sepenting bayi lainnya," lanjut Bethany.

Hasil investigasi layanan kesehatan setempat menemukan kesalahan pada bidan. Bidan disebut tak terbuka atau terus terang saat anak Bethany harus lahir dalam kondisi 22 minggu dan tak bisa selamat.

"Mereka seharusnya diberitahu secara sensitif tentang hasil yang diharapkan (kelangsungan hidup) untuk Jensen dan keputusan tentang perawatan paliatif yang seharusnya dibuat bersama," jelas otoritas setempat.

"Panel menyimpulkan bahwa staf gagal untuk secara memadai mengakui bahwa Jensen lahir menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan, karenanya, merupakan kematian neonatal."

Sementara sang bidan, mencatat kelahiran anak Bethany dengan kondisi mati saat lahir.

"Seharusnya, jika dia menunjukkan tanda-tanda kehidupan tentunya harus pada apakah anak Anda memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Dia bernapas dan memberi kehidupan, tentunya setiap anak yang bernapas dan menunjukkan kehidupan berhak mendapat kesempatan?" protes Bethany.

"Rumah sakit seharusnya tidak menjadi pilihan untuk memutuskan apakah dia berhak mendapat kesempatan untuk hidup. Seharusnya itu milik kita," lanjutnya.

Bethany bahkan kini membuat petisi untuk menyelamatkan nyawa bayi yang lahir sebelum 22 minggu. Sementara pihak rumah sakit mengungkapkan duka yang mendalam dan menyesal atas kondisi yang dialami anak Bethany.

"Keadaan seputar kehilangan bayi Jensen sangat menyedihkan dan kami ingin menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada Bethany dan keluarganya," Juru bicara Hull University Teaching Hospitals NHS Trust di Inggris.



Simak Video "Strategi Menkes Budi Tekan Angka Kematian Pada Ibu Melahirkan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)