Pusing gegara Tak Bisa Matematika, Wanita Ini Ternyata Idap Penyakit Ini

ADVERTISEMENT

Pusing gegara Tak Bisa Matematika, Wanita Ini Ternyata Idap Penyakit Ini

Fadilla Namira - detikHealth
Minggu, 16 Okt 2022 21:30 WIB
Ilustrasi contoh gaya gesek menulis atau anak belajar
Foto: Getty Images/iStockphoto/Hakase_
Jakarta -

Pelajaran matematika tak jarang membuat seseorang kesulitan karena tidak bisa memahami konsep angka dan rumus untuk menentukan jawaban dari sebuah persoalan. Begitu pula dengan ilmu ekonomi yang sejatinya selalu dikaitkan dengan perhitungan angka yang pasti.

Walaupun permasalahan tersebut bisa diselesaikan dengan tekun mengulang materi, ternyata ada sebuah kondisi medis khusus terkait hal ini bernama diskalkulia. Namun, kondisi ini kurang mendapat perhatian masyarakat dan akhirnya terlambat didiagnosis.

Dikutip dari The Dyslexia Association, diskalkulia adalah kesulitan spesifik dan terus-menerus dalam memahami angka yang dapat menyebabkan beragam kesulitan terkait matematika. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti permasalahan kognitif, biologis, dan lingkungan pada setiap individu.

Kondisi ini dialami langsung oleh seorang wanita di Malaysia bernama Raja Fija. Ia tergerak untuk memeriksakan kondisinya tersebut setelah membaca mengenai gejala diskalkulia di internet. Ketika ditelisik lebih jauh, ia menyadari bahwa tanda-tanda diskalkulia pernah dialami sejak sekolah dasar dulu.

"Saya sudah mengalami situasi ini sejak sekolah dasar. Ini adalah suatu kondisi dan bukan penyakit, baik secara sadar maupun tidak sadar," kata Fija dikutip dari mStar pada Minggu (16/10/2022).

"Tidak banyak orang yang tahu tentang diskalkulia, kebanyakan orang hanya tahu disleksia (buta huruf). Saya membacanya secara kebetulan di internet. Setelah membaca, saya menemukan gejala yang dijelaskan sama dengan saya alami," lanjutnya.

Sebelum didiagnosis, ia terlebih dahulu mengikuti ujian matematika di sebuah pusat asesmen selama dua jam. Melalui hasil asesmen tersebut, dokter pun menganjurkannya untuk menjalani perawatan terapi. Namun, tuntun itu tidak ia penuhi karena sibuk bekerja.

"Setelah terdiagnosis, pengidap disarankan untuk melanjutkan terapi, terutama yang masih berstatus pelajar. Akan tetapi, saya tidak melakukannya karena keterbatasan waktu dan tuntutan pekerjaan," ungkapnya.



Simak Video "Kata Menkes soal WHO Tetapkan Covid-19 Jawa-Bali Level 2"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT