ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Feb 2013 14:06 WIB

Cuci Otak Penangkal Stroke?

Dahlan Iskan Berbagi Pengalaman, Kontroversi Cuci Otak Mencuat Lagi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Pro dan kontra seputar cuci otak atau brainwash untuk terapi stroke sebenarnya sudah ramai beberapa tahun silam, lalu tenggelam. Belakangan karena Menteri BUMN Dahlan Iskan membicarakan hal ini, cuci otak kembali menjadi bahasan. Alhasil kontroversi pun mencuat lagi.

Belum lama ini, menteri yang dikenal selalu nyentrik tersebut menuliskan pengalamannya menjalani terapi brainwash bersama dr Terawan Agus Putranto, SpRad di RSPAD Gatot Subroto. Tulisan berjudul 'Membersihkan Gorong-gorong Buntu di Otak' itu dimuat pula di detikFinance.

Dalam tulisan itu, Dahlan mengaku tidak dalam keadaan sakit dan tidak punya keluhan apapun saat melakukan terapi. Ia hanya ingin mencoba, karena sepengetahuannya brainwash merupakan metode baru untuk membersihkan saluran-saluran darah di otak.

Salah satu hasilnya, Dahlan merasakan pikirannya menjadi jernih dan segar. Selama menjalani terapi pun, ia langsung merasakan sensasi 'pyar' seperti rasa mint di kepala yakni saat dr Terawan membersihkan sumbatan di otak kirinya yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Namun kesaksian ini langsung menuai kontroversi di kalangan dokter, yang diakui sendiri oleh Dahlan dalam tulisannya memiliki pendapat yang masih terbelah. Masih banyak dokter yang belum bisa menerima brainwash sebagai bagian dari medical treatment.

Bahkan istilah pendapat yang terbelah pun dipersoalkan, karena Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia (Perdossi) punya data yang lebih akurat soal proporsi dokter yang menerima brainwash sebagai terapi dengan yang menolak. Perbandingannya jauh, sehingga tidak tepat untuk dikatakan terbelah.

"Kalau saja ada 1.000 dokter, 400 orang setuju metode cuci otak dan 600 lainnya menolak, itu bisa dikatakan pendapat yang terbelah, karena jumlahnya hampir seimbang. Namun kalau dari 1.000, hanya 20 orang saja yang setuju, itu bukan terbelah namanya. Kenyataannya, lebih dari 98 persen masyarakat kedokteran Indonesia belum menerima cuci otak," kata Prof Dr M Hasan Machfoed, SpS(K), Ketua Perdossi dalam tulisannya seperti dikutip detikHealth, Kamis (28/2/2013).

Terapi brainwash yang dilakukan dr Terawan ini memang bukan barang baru, pernah pula menuai pro dan kontra di kalangan dokter sejak beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, dr Terawan kabarnya masih tetap kebanjiran pasien sekalipun harganya tidak murah karena bisa mencapai Rp 100 juta.

Perdebatan mengenai terapi ini baru muncul lagi setelah Dahlan Iskan mencobanya sendiri lalu menuliskannya dan dimuat di sejumlah media massa. Tak tanggung-tanggung, Prof Machfoed dalam tulisannya menilai testimoni Dahlan seperti testimoni klinik pengobatan tradisional China.

"Ya nggak apa-apa, nggak apa-apa," kata Dahlan saat dimintai komentar atas penilaian bahwa testimoninya tentang brainwash mirip testimoni Klinik Tong Fang.



(up/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT